Aku tak merasa lega, malah kecewa berat. Suamiku seakan masih ingin menghibur perempuan itu, tidakkah dia melihat air mata dan jeritan hatiku? Aku hanya bisa berteriak dalam hati, berdoa, “Tuhan tolong kuatkan aku! Bantu aku agar tidak menangis di depannya, saat ini! Bantu aku tabah, hanya Engkau yang bisa menghibur aku karena tak seorangpun peduli pada perasaanku.” Aku yakin Tuhan mendengar jeritan hatiku, Tuhan bekerja. Ia memberiku ketenangan, memberiku kekuatan.

Cobaan belum berakhir. Suami perempuan itu memaksa istrinya berhenti kerja. Ia mengancam akan membunuh suamiku jika mereka masih berhubungan. Ia juga memberitahuku semua rahasia kotor mereka, bahkan menunjukkan rekaman ketika mereka berhubungan badan yang ia temukan di gawai istrinya. Ia marah besar dan tak segan membunuh suamiku.

Ancaman itu tak ada gunanya. Aku punya firasat mereka masih berhubungan. Aku menemukan kontak bernama “Sephia” di gawai suami, itu dia! Ironis, bukan? Aku berkata pada suami, “Sepandai-pandainya kamu menyimpan bangkai, pasti bau busuknya akan tercium juga. Tuhan pasti akan menunjukkan semuanya kepadaku. Bagiku itu berarti Tuhan masih sayang sama kamu, supaya kamu ga terus-terusan salah langkah.”

Suami mengelak dan berusaha menutupi kebohongannya. Ketika kutunjukkan setiap percakapannya dengan si ‘Sephia’, barulah ia meminta maaf sambil menangis. Aku tak tahan lagi. Kuambil map berisi surat gugatan cerai dan kuserahkan padanya, “Cepat kamu urus perceraian kita! Sudah kamu pergi saja merintis lagi dengan Sephiamu. Kamu masuk sini tidak membawa apa-apa, rumah dari keluargaku. Mobil aku yang bayar. Jadi silakan kamu keluar. Aku ingin lihat, perempuan itu kuat berapa lama!”

Aku meminta suami mengantarku ke rumah mertua. Kuceritakan semuanya pada mertua dan di hadapan kedua orang tuanya kumeminta suami memilih antara aku atau perempuan itu. Ayahnya tampak memendam amarah, ibunya hanya terdiam. Mereka kemudian berkata, “Kami hanya mengakui kamu sebagai menantu kami,” kemudian mereka berkata pada anaknya, “Kalau kamu mau cerai lalu menikah sama perempuan itu, silakan. Tapi kami akan bertemu orang tua perempuan itu, kami akan tegaskan bahwa kamu sudah bukan anak kita lagi, jadi ke depannya semua tanggung jawabmu sendiri, urus sendiri.” Mertua juga meminta suamiku menelponkan perempuan itu. Awalnya perempuan itu setuju untuk bertemu, tapi kemudian ia sendiri membatalkan tanpa alasan.

Kupikir, ia telah pergi dari hidup kami. Ia tak akan berani lagi menunjukkan batang hidungnya di hadapan kami. Sampai panggilan telepon itu masuk; adik perempuan itu menghubungi suamiku, rupanya mereka kembali menjalin hubungan. Foto-foto mesra mereka kembali memenuhi gawainya.

Aku berkata dengan dingin pada suami, “Masih belum puas? Teruskan saja…”

Suami memulai dramanya, ia mengambil pisau dapur seolah-olah hendak memotong nadinya. Entah mengapa aku bisa berkata padanya datar, “Kalau mau mati ya mati saja tapi jangan di sini. Nanti aku susah, anak-anak juga kasihan kalau lihat. Rumah ini juga ga bakal laku kalau dijual kalau kamu bunuh diri di dalam rumah.” Lalu aku membawa anak-anak untuk pergi.

Malam itu kami kembali ke rumah. Rupanya suami tidur dengan tenang di kamar, tak sedikit ada rasa bersalah. Aku memutuskan untuk tidur dengan anak-anak. Aku sebenarnya merasa bersalah kepada mereka, harus mendengar kami ribut terus-menerus. Aku tak bisa membendung air mata, membayangkan mereka harus melihat sendiri foto mesra ayahnya dengan perempuan lain. Aku merasakan tangan-tangan mereka memelukku, “Bunda, jangan sedih, jangan nangis lagi.”

Aku masih berusaha keras untuk memulihkan pernikahan ini. Masih banyak hal yang belum terselesaikan, masih banyak masalah yang mengganjal. Walau sudah tak lagi berhubungan dengan perempuan itu, suami masih berhubungan dengan kawan-kawan perempuan itu dan berat melepaskan mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here