Hari ulang tahunnya tiba. Aku mengajaknya merayakan ulang tahun bersama anak-anak. Betapa kecewanya kami, ia menolak. Ia sudah punya janji merayakan ulang tahun dengan teman-teman sekantor. Ketika ia bersiap-siap, tak sengaja aku melihat sebuah pesan masuk di gawainya, bunyinya, “Happy birthday, proud of you! Aku sayang kamu dan akan tetap menyayangimu meskipun sudah tak bisa bersama lagi.” Ketika ia melihatku memegang gawainya, ia hanya terpaku, seperti menunggu gunung meletus. Ya, luapan rasa sakit, kekecewaan, dan marah pada diri sendiri sedang meledak-ledak dalam diriku.

“Tuhan, sebegitu jelekkah diriku? Sebegitu tidak layakkah aku untuk dicintai? Masih kurangkah apa yang selama ini kuberikan untuk suami dan keluargaku? Apa lagi yang belum kulakukan untuk suamiku?”

Melihatku menangis sedih, ia hanya bertutur, “Maaf, aku jatuh,” lalu ia pergi.

Foto Mesra Mereka Menghancurkan Hatiku

Belum kering air mataku, suami pergi untuk perjalanan dinas. Dan ketika ia kembali ia berkata bahwa ia telah menceritakan kejadian di malam ulang tahunnya itu kepada Si rekan, ia mengaku padanya jika aku mengetahui hubungan mereka. Ia kemudian menyerahkan gawainya padaku. Entah bagaimana, jari-jari yang tak pernah mahir menggunakan gawainya seperti menari begitu saja, mengakses berbagai pesan dan foto yang selama ini ia sembunyikan.

Hatiku hancur! Ketika aku membawa anak-anak yang panas tinggi mencari dokter, mereka sedang berdua, berfoto mesra. Di hari ulang tahunnya, sesaat setelah ia meninggalkanku yang menangis lara, mereka sedang bersama. Ketika aku dan anak-anak terpaksa makan nasi dan lauk seadanya demi melunasi cicilan mobil dan apartemen, mereka sedang makan romantis di restoran mahal.

Dalam keputusasaan aku bertanya pada suami, “Siapa yang kamu pilih: aku atau dia?”

Dia hanya menjawab ketus, “Nyatanya sekarang aku ada di rumah, ya berarti aku memilih di sini.”

Tak puas, aku bertanya lagi, “Lalu bagaimana kamu dengan dia?”

Tanpa berpikir panjang dia menjawab, “Ya kamu tahu kan rasanya orang yang sedang jatuh cinta. Lagi sayang-sayangnya dipaksakan putus, ya begitu perasaanku. Aku ini sedang patah hati! Aku bertemu dia di saat yang tidak tepat, sudah terlanjur menikah sama kamu.”

Sejak saat itu, aku terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Aku merasa begitu tidak berharga, tidak diharapkan. Kehadiranku di rumah seperti menjadi beban. Aku adalah kesalahan yang disesali. Hancur sudah hidupku ini.

Kata orang waktu akan menyembuhkan luka; begitu pula harapanku. Namun, bukan begitu kenyataannya. Lagi-lagi tak sengaja aku membaca pesan tanpa nama yang masuk di gawainya, “Yang, makasih ya tadi sudah dianterin. Aku seneng banget, akhirnya bisa sama Sayang lagi.” Luka belum sembuh, sekarang petir menyambar keras; hubungan mereka masih berlanjut.

Pertemuanku dengan Perempuan Itu

Kesabaranku sudah habis. Aku menghubungi perempuan itu dan mengajaknya bertemu. Sekilas ia tampak manis, ia memulai dengan meminta maaf dan berusaha menjelaskan dengan baik-baik hubungan mereka yang tak sejauh yang kukira. Ia memintaku memaafkan suami dan ia berjanji akan pergi jauh, tidak akan mengganggu rumah tangga kami lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here