Seminggu kemudian si kecil diizinkan pulang ke rumah. Malam itu sambil berjaga memantau kondisi si kecil, aku kembali menemukan swafoto suami dan perempuan itu di acara kantor. Rupanya mereka sudah tak menutupi hubungan di hadapan rekan-rekan kerja. Aku hanya bisa menangis. Suami yang sudah tidur, terbangun marah, “Apa lagi?! Tidak ada apa-apa kok nangis-nangis tidak jelas!”

Aku tidak terima, “Ini apa? Besok kamu urus perceraian kita! Semua surat sudah kusiapkan, kamu tinggal bawa ke pengadilan.” Suami hanya menjawab, “Cuma WA gini aja loh, dia teman kantor, cuma berteman apa salahnya?” Tidak ada penyesalan, tidak ada maaf.

Lewat dua bulan, aku benar-benar tidak tahan. Kembali kuminta bertemu dengan perempuan itu. Kutanyakan tentang kehamilannya. Perempuan itu mengakui bahwa hubungan mereka sudah sangat jauh, tetapi ia tidak mengakui kehamilannya. Ia malah menasihatiku, “Jadi istri harus yang bisa menjaga badan, menjaga penampilan. Abang (suamiku) itu suka yang modis, pintar merawat diri, dan imut seperti aku. Sebagai istri harus enak dipandang suami, supaya suami tidak tergoda melihat keluar. Aku titip Abang ke kamu ya. Aku titip jagain dia supaya tidak jatuh lagi. Tapi ya itu kamu harus bisa jaga badan dan merawat diri. Harus tahu diri suami itu suka yang seperti apa, sukanya diperlakukan seperti apa. Jangan sok mandiri, kudu ngalem dan minta dianterin supaya suami merasa dibutuhkan.”

Tak lama kemudian suami datang menjemputku. Perempuan itu berlagak seperti malaikat berhati lembut, menyatukan tanganku dan suami sambil berkata, “Kalian kembalilah, Tuhan sudah mempersatukan kalian, jadi kalian jangan cerai. Pasti bisa kalian kembali seperti semula saat belum bertemu aku.”

Ia bahkan berkata pada suamiku, “Kamu kembalilah pada istrimu, kamu tetap Abangku.”

Tanpa sungkan suami membalas berkata, “Aku peluk sebentar ya, pelukan perpisahan.”

Coba bayangkan, di hadapanku, suamiku dan selingkuhannya berpelukan dengan mesra dan erat. Perempuan itu menangis sejadi-jadinya, suamiku memeluknya, mengelus punggung dan kepalanya sambil berkata, “Ya sudah, kamu juga kembalilah ke suamimu ya..”

Suamiku bahkan meminta maaf pada perempuan itu. Entah apa maksud permintaan maafnya yang bahkan tak pernah terucap ketika ia berhadapan denganku.

Sudah lama ia tak pernah bersikap demikian manis kepadaku. Aku ini istrinya! Ketika aku terluka, ia malah membuat lukanya makin menganga dan berdarah. Di matanya akulah yang salah, akulah si jahat yang membuatnya jatuh ke pelukan perempuan lain.

Suatu hari, tiba-tiba dia menjemputku dari kantor. Raut mukanya penuh ketakutan. Ia bercerita suami perempuan itu mencarinya ke kantor. Sekalipun takut, ia berkata akan menyelesaikan secara baik-baik. Sebelum pergi, ia berkata, “Kalau aku tidak pulang, tidak usah dicari. Kalau ketemu, mau dikuburkan ya terima kasih. Kalau tidak ya tidak apa. Sampaikan ke anak-anak, aku minta maaf tidak bisa mendampingi sampai besar. Semoga aku masih bernyawa pulang nanti.”

Saat itu aku bertanya, “Kamu takut dibunuh? Berlebihan kamu, hubungan kalian kan tidak sejauh itu…”

Ketika Suami Perempuan itu Menghubungi Suamiku

Barulah dia mengaku: perempuan itu telah mengandung anaknya tapi akhirnya dikuret karena tidak berkembang. Entah benar atau itu hanya kebohongan yang lain. Aku diam saja. Melihat responsku, dia malah kebingungan. 

Tak lama, suami perempuan itu menelepon suamiku. Ia minta suamiku bertanggungjawab telah membuat istrinya depresi hingga mengancam bunuh diri. Ia tak rela suamiku kembali padaku. Sekilas kudengar teriakan, “Abang…Abang…aku ga mau sendiri, aku mau sama Abang terus.” Suara suaminya penuh kebingungan.

Suamiku terdiam, lalu ia menjawab, “Tidak bisa, kita punya keluarga masing-masing. Kita juga sudah sepakat untuk kembali ke keluarga masing-masing.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here