Janji tinggal janji. Berita terburuk justru datang di hari ulang tahunku. Malam itu suami mengangkat telepon darinya, mungkin ia pikir aku sudah terlelap. Tak sengaja aku mendengar pembicaraan mereka, perempuan itu hamil! Sebenarnya aku sudah menyiapkan hati untuk kemungkinan terburuk, tapi aku tak menyangka berita itu datang di hari ulang tahunku. Tak ada hadiah, tak ada ucapan dari suami, tak ada ciuman penuh kasih; yang ada hanya ketegangan di antara kami.
Diam-diam aku membaca chat mereka; bayi itu akan mereka pertahankan. Perempuan itu akan bertanggungjawab sepenuhnya, agar suami tak perlu meninggalkan kami. Aku ragu akan ketulusan pesan itu. Nyatanya suami terus gelisah dan semakin depresi. Aku bersikap seperti tak tahu apa-apa, diam-diam masih berharap suami mau terbuka.
Harapan itu pun pupus. Aku menemukan foto-foto dan chat mesra mereka. Hubungan itu tak pernah berakhir seperti janji perempuan itu padaku. Dalam kemarahan, aku berkata pada suami, “Apa yang kamu tabur kelak pasti kamu tuai. Kalau kamu sering bohong, suatu saat nanti kamu akan dibohongi!!”
Alih-alih menyesal, suami malah makin membela perempuan itu. Aku makin yakin, suami bertahan bukan karena ia mencintaiku, bukan karena ia memilihku.
Liburan tiba. Suami tiba-tiba berkata ia ingin membuka lembaran baru, memulai segalanya dari awal. Ia mengajak kami sekeluarga berlibur di sebuah hotel. Tentu aku menyambutnya dengan gembira, sampai kutahu, ternyata perempuan itu juga menginap di sana. Saat kami berpapasan, aku berujar padanya, “Kamu jangan pergi ke mana-mana ya. Kalau ada pemanggilan pengadilan kamu adalah saksi kunci.”
Aku memang telah menemui pengacara dan mengurus berkas-berkas perceraian. Aku muak dengan suami, muak pada perempuan itu, muak dengan kebohongan-kebohongan mereka. Aku benar-benar muak melihat perempuan itu seolah hendak meninggalkan suami, tapi di lain pihak ia malah playing victim seolah dialah yang menjadi korban dari situasi yang tidak adil ini. Di depanku dia bersikap manis dan penuh penyesalan, di belakang ia terus menjelek-jelekkanku, merajuk pada suamiku. Suami pun bukan menyesal atau membelaku, ia bahkan menghibur si perempuan itu berkata, “Jangan kamu anggap istriku itu; orang gila tidak perlu ditanggapi!”
Yakinlah aku, bagi suamiku aku ini buruk rupa dan tidak berharga; perempuan itu begitu mulia. Hati ini sudah hancur lebur, tapi aku masih berusaha diam. Aku memberi suami peringatan, “Jika sampai kamu tertangkap basah masih berselingkuh dengan dia, kamu sendiri yang harus mengajukan berkas-berkas perceraian.”
Di momen liburan lain, kami sekeluarga mengunjungi destinasi wisata top negeri ini. Lagi-lagi, perempuan itu berada di lokasi yang sama. Ia menggunakan berbagai cara menghubungi suamiku. Kali itu, suamiku menyimpan nomornya dengan nama seorang laki-laki. Sekali lagi aku tak sengaja membaca pesannya, “Sayang, kenapa? Tadi telepon? Sorry, aku ketiduran (emoticon kiss and hug). Aku kangen, Yang…”
Mereka Terus Bermain di Belakangku dan Bahkan di Depan Mataku
Mereka menipuku lagi! Aku hanya diam, pura-pura tak tahu, tak ingin merusak momen liburan anak-anak. Sebisa mungkin aku membawa mereka bermain dan menikmati liburan, sementara suamiku hanya tidur di kamar dengan alasan capek.
Dalam perjalanan pulang, aku dan si bungsu jatuh sakit; kami muntah berkali-kali. Alhasil kami tak pulang ke rumah, langsung menuju rumah sakit. Si bungsu harus opname, suami terpaksa menemani, sementara aku dan anak-anak yang lebih besar pulang ke rumah. Tak ada kata istirahat buatku; dalam keadaan lemah, aku tetap harus mencuci semua pakaian selama liburan, menyiapkan keperluan di kecil untuk dibawa ke rumah sakit. Betapa sedihnya aku ketika suami berkata akan tetap masuk kerja, meninggalkan aku yang kelelahan sendirian.






