Dia biasanya juga akan menjemputku dari kantor dan kami akan bersama-sama pulang ke rumah. Saat itu, kebiasaan sekian tahun tiba-tiba menjadi siksaan baginya. Pernah sekali dia menyuruhku jalan kaki ke tempat ia menunggu, jalanan macet katanya. Terkadang ia tiba menjemput dengan marah-marah tanpa alasan. Kupikir, mungkin dia kelelahan.

Bukan hanya itu perubahan sikapnya, aku mendapati beberapa kali ia membawa si bungsu berkendara, alasannya agar si bayi cepat tidur. Memang setiap kali mereka kembali, si bayi sudah tertidur lelap. Namun, aku juga mengamati, dia pulang dalam kondisi melakukan panggilan telepon; bukan hanya dalam durasi yang sangat panjang, tetapi juga ia sering melakukannya di sudut rumah, jauh dari jangkauan kami.

Suatu hari, suami berkata bahwa si rekan harus dirawat di rumah sakit. Dengan berbagai alasan, dia berusaha menjelaskan bahwa rekannya butuh ditemani. Aku mengizinkannya pergi, berpikir bahwa hal itu terjadi hari itu saja karena kondisi terdesak. Siapa sangka, dia menjaga rekannya setiap hari selama hampir seminggu ia dirawat di sana. Seperti tertular, tak lama suami yang jatuh sakit. Aku memintanya untuk opname di rumah sakit untuk perawatan yang optimal. Ia menolak. Beban itu jatuh di pundak ini; merawat suami yang sakit, masih harus bekerja dan mengurus rumah serta tiga anak.

Sehari-hari saja bebanku sudah cukup berat. Orang tua akan membantuku menjaga anak-anak selama aku bekerja. Sepulang dari kantor aku tetap harus membereskan rumah dan menyelesaikan setumpuk pekerjaan rumah tangga yang sepertinya tiada akhirnya. Tak pernah sekalipun aku mengeluh, tapi minggu itu aku sungguh-sungguh kelelahan.

Suami makin berubah ketika ia memutuskan untuk kembali kuliah, mengejar gelar yang lebih tinggi. Aku kini harus berangkat dan pulang kerja sendiri. Dia akan berangkat pagi-pagi dan pulang larut dengan alasan perkuliahan. Praktis dia tak pernah punya waktu untuk kami.

Anak Sakit, Namun Suami Tak Peduli

Hari itu, permulaan musim hujan, dua anak kami panas tinggi. Dalam keadaan terdesak, aku menelepon suami dan menceritakan keadaan anak-anak. Aku tak menyangka dia hanya menjawab dingin, “Ya kamu bawa ke dokter!” Dengan berbagai alasan dia tak mau mengantar anak-anak ke dokter. Malam itu, seorang diri kubawa anak-anak ke rumah sakit. Rupanya mereka terkena infeksi virus. Dokter masih mengizinkan mereka dirawat di rumah dengan bekal antibiotik dan pesan untuk membawa mereka kembali agar ia dapat memeriksa perkembangannya. Suami tetap tak peduli, seorang diri lagi aku membawa anak-anak yang sudah jauh membaik periksa ke dokter untuk kedua kalinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here