Seperti halnya tubuh yang memerlukan diet, pikiran kita juga memerlukan yang namanya diet berpikir. Kita perlu memilah hal mana yang perlu dikonsumsi oleh pikiran kita dan hal apa yang perlu kita alihkan segala keingintahuan dan penafsiran kita. Tentu metode pengalihan pikiran seperti ini memerlukan latihan.

Kita, orang dewasa sering menganggap bahwa ketika anak kita beranjak remaja berarti mereka bukan anak kecil lagi, yang perlu selalu kita jaga dan awasi, serta perhatikan gerak-geriknya. Kelolosan pengawasan ini yang mungkin dapat berakibat fatal di kemudian hari.

Sebenarnya peran kita sebagai orangtua berlangsung terus. Bahkan sampai anak kita menikah atau dewasa nanti. Tugas orangtua tidak pernah berhenti dan harus memiliki bonding setiap harinya dengan anak. Sebagai contoh, mulailah bertanya kepada anak-anak kita, hal apa yang mereka rasakan hari ini.

Tidak serta-merta jika kita sebagai orangtua telah menyekolahkan, memberikan fasilitas, kemudian menikahkan, lalu tugas kita usai. Figur kita sebagai orangtua yang mengasihi pasangan, berkepribadian sehat, dan beriman, justru memenuhi dan membekali semua kebutuhan primer serta perkembangan level-level kehidupan anak-anak  kita, sehingga kecil kemungkinan bagi mereka untuk menjadi psikopat atau sosiopat.

Seorang raja bijak, Salomo, pun pernah berkata, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang daripada jalannya itu.”

Jadi, sebagai orangtua, siapkah kita menemani dan mengayomi anak-anak kita sampai mereka siap terbang sendiri dan mengepakkan sayap-sayap kecilnya?

Baca Juga:

A Small But Important Lesson About Parenting: Ayu Anak Titipan Surga

Dibutuhkan Orang Sekampung untuk Membesarkan Seorang Anak. Untuk Anak-Anak Indonesia, Apa Jawab Kita?

“Are You Happy?” Pernahkah Kita Bertanya kepada Anak-Anak Kita, Apa yang Membuat Mereka Benar-Benar Bahagia?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here