Mertua saya mengkonfrontasi anaknya habis-habisan dan anaknya menyangkali perbuatannya mati-matian.
Tadi sudah saya peringatkan agar berhati-hati dan mencari orang yang tepat? Temuilah konselor pernikahan yang punya reputasi baik terkait pernikahannya sendiri.
Sebetulnya, saya hanya berharap mertua mendukung saya lewat doa, supaya saya tetap waras menghadapi permasalahan. Namun yang terjadi? Mertua menyuruh saya memarahi suami. Tadi sudah saya peringatkan, ya, para istri? Ah, sudah, ya.
Meskipun demikian, setidaknya pernyataan saya kepada mertua menyembuhkan saya, “Kalau menyelesaikan persoalan ini segampang membalikkan telapak tangan, sudah dari dulu persoalan ini beres. Saya sudah marah-marah sampai berbusa-busa. Tolong Papa Mama tetap doakan saya, ya.”
Akhirnya, saya datang pada konselor pernikahan yang sesungguhnya, lagi-lagi, buku. Saya membaca berulang dan berulang dan berulang-ulang kali dua buku tulisan Dr. Kevin Leman, seorang psikolog spesialis keluarga: Seks Dimulai dari Dapur dan Have an Excellent Husband in 5 Days.
Tadi saya bilang, pernyataan saya menyembuhkan diri saya sendiri, ya? Itu benar. Saya menyadari bahwa marah-marah tidak akan membereskan persoalan saya. Jadi, logisnya gimana? Ya, saya tidak marah-marah. Apakah saya bisa tidak marah-marah? Tidak bisa.
Saya frustrasi.
Mari berhenti lagi sejenak.
…
…
Ketika itu saya ingat, saya juga berhenti. Terhenti, tepatnya. Saya merasa amat buntu, tidak bisa berpikir dengan baik. Sudah saya katakan, bukan, saya membaca buku itu berulang? Ya, berulang, berulang, dan berulang-ulang kali.
Lalu sekarang, apa yang saya inginkan? Saya ingin suami saya lurus.
Apakah itu realistis? Hmm … Tidak.
Supaya bisa dicapai, keinginan itu harus realistis. Oke, logis!
Jadi, saya harus ubah keinginan saya, ya? Baiklah.
Saya ingin suami saya lurus? Hmmm … Tidak lagi
Saya ingin suami saya. Itu saja. Saya ingin suami saya.
Ubahlah yang Bisa Diubah, Terimalah yang Tidak Bisa Diubah. Mintalah kepada Tuhan Kebijaksaan untuk Membedakannya
Buku Dr. Leman amat menolong saya. Saya belajar mengenali suami saya, kebutuhannya, bagaimana cara menjawab kebutuhan suami, dan banyak hal lain lewat bukunya. Saya sudah katakan, kan, saya mengubah keinginan saya? Ya betul, keinginan saya sekarang adalah ingin suami saya. Saya mau suami saya. Saya yang mau lho, ya, tidak dipaksa. Sekali lagi, yang saya mau apa? Suami saya. Suami yang bagaimana? Suami saya. Itu saja.
:]
Bagaimana, masih berminat membaca kisah saya?







Terimakasih untuk bersedia menulis kisah ini Bu, inspiratif 🙂
Mbak, boleh minta no. Wa nya?