Saya merasa sedih dan kecewa. Ternyata selain diri saya, suami saya melihat banyak wanita lain telanjang dengan matanya.

Saya merasa marah. Betapa tidak adil, saya telah menjaga kesucian, tidak berhubungan dengan laki-laki lain, tidak menonton tayangan porno. Tubuh dan hati saya hanya untuk suami seorang.

Saya merasa takut dan curiga. Jangan-jangan, selain menonton tayangan porno, suami juga berhubungan intim dengan wanita lain.

“Apa saya kurang menarik?” tanya saya pada diri sendiri, putus asa. Tidak berharga.

Ada juga dendam. Saya geram, ingin rasanya membalas perbuatan suami. Apa yang diperbuatnya sungguh jahat!

Saya ini seorang pengadu. Setiap ada persoalan, ingin rasanya saya mengadu. Tapi, saya ingatkan para istri, kepada siapa Anda mengadu itu penting sekali. Saya tidak mengadu kepada keluarga, atau teman, atau publik [lewat media sosial], juga tidak mengadu lewat tingkah laku. Begini maksud saya mengadu lewat tingkah laku: setelah mendapatkan konfirmasi tentang kecanduan suami akan pornografi, saya tidak lantas heboh berdandan, belanja membabi buta, bergenit-genit, operasi plastik, melakukan treatment pelangsingan. Tidak.

Suami saya pecandu pornografi. Saya merasa tidak berharga. Lihat kaitannya dengan tingkah laku yang saya sebutkan di atas? Sebagai orang yang sedang merasa tidak berharga, dalam diri saya muncul kebutuhan untuk merasa berharga. Apa yang bisa membuat saya berharga melawan adiksi pornografi suami? Kalau saya merasa cantik secara fisik! Usaha-usaha menjadi cantik adalah cara mengadu lewat tindakan.

Lalu, kepada siapa saya mengadu?
Kepada IA yang menciptakan saya.

Logis sekali, bukan? Saya frustrasi, apa yang saya harapkan tak sesuai dengan apa yang saya dapatkan. Saya hancur, butuh diperbaiki. Siapa yang harus saya cari? Pencipta saya.

Carilah Tuhan, Penciptamu

Apa isi pembicaraan saya berdua dengan Tuhan di kamar kala itu?

Saya bilang, saya sedih. Tuhan pasti tahu, wong saya bilangnya sambil menangis. Saya marah! Tuhan pasti tahu, wong saya ngomongnya sambil teriak. Saya mengadu, merasa diperlakukan tidak adil. Saya terus terang bilang pada-Nya, “Ini tidak adil. Apa-apaan! Saya tidak macam-macam, saya lurus. Saya mau suami saya juga sama.” Saya tahu, Tuhan tahu itu.

Yang ini, saya tidak ngomong, tapi saya yakin Tuhan juga tahu. Bahwa di dalam pikiran saya, datang dan pergi pertanyaan-pertanyaan ini. “Apa saya kurang menarik?”, “Apa perut saya yang kurang langsing ini yang membuat suami saya mencari foto wanita lain, yang langsing?”

Saya juga tidak bilang ini, tapi Dia yang Mahatahu, pasti tahu. Bahwa pikiran saya mulai merancangkan pembalasan dendam pada suami. Bagaimana jika saya menolak berhubungan intim? Bagaimana jika saya bergenit-genit? Saya ini masih menarik, lho!

Sekarang tahu, kan, mengapa saat pikiran tidak jernih, kita harus datang pada Tuhan dan bukan pada yang lain?

Oke, tarik napas dalam dulu. Mari berhenti sejenak.

Waktu itu, saya juga mengambil langkah ini. Berhenti sejenak sambil menimbang-nimbang, apa yang sebaiknya saya lakukan, apa langkah saya selanjutnya?

Saya kemudian memutuskan untuk menceritakan permasalahan saya. Sekali lagi, para istri, seperti juga kepada siapa kita mengadu itu penting, kepada siapa kita bercerita juga penting. Saya memilih mertua saya: papa dan mama suami saya.

Carilah Dukungan Orang yang Tepat [Konselor, yang Punya Reputasi Baik tentang Pernikahannya Sendiri]

Saya tidak menemui konselor pernikahan karena ada dalam lingkungan keluarga kami orang yang saya anggap punya pernikahan yang baik, menginginkan keutuhan rumah tangga kami, dan cukup dekat dengan kami: mertua.

Apa yang selanjutnya terjadi?

2 COMMENTS


  1. Warning: Attempt to read property "ID" on bool in /home/ributruk/public_html/wp-content/plugins/podamibe-custom-user-gravatar/pod-custom-user-gravatar.php on line 179
    Eka Ruliana

    Terimakasih untuk bersedia menulis kisah ini Bu, inspiratif 🙂


  2. Warning: Attempt to read property "ID" on bool in /home/ributruk/public_html/wp-content/plugins/podamibe-custom-user-gravatar/pod-custom-user-gravatar.php on line 179
    Tanpa nama

    Mbak, boleh minta no. Wa nya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here