Kita masih hidup di dunia yang penuh dengan godaan. Termasuk godaan untuk berselingkuh.

Penelitian menunjukkan, romansa cinta – atau apa yang kita para awam sebut ‘getaran’, ‘setrum’ – atau apalah yang kita rasakan pada pasangan hanya bertahan paling lama dua tahun.

Saya dan suami dekat sejak tahun 1995. Jadi, sudah hampir 25 tahun kami bersama. Bila, sesuai penelitian ilmiah, romansa itu padam sejak tahun 1997, hubungan kami seharusnya sudah lama tamat.

Saya bukan family therapist, saya bukan ahli. Akan tetapi saya berani menjamin,

bahwa memilih, meskipun rumput tetangga terlihat lebih hijau, sibuk merawat kebun sendiri alias setia adalah langkah terbaik menikmati pernikahan.

Baca Juga: Mengapa Cinta adalah Alasan yang Keliru dan Apa Alasan yang Tepat untuk Menikah, Menurut Pakar Psikologi

Ngomong-ngomong urusan ‘setrum’, ada dua hal menarik yang saya temukan.

Pertama, kalau setiap dua tahun ‘setrum’ itu hilang, bagaimana kalau kita kembali memilih orang yang sama setiap kali ‘setrum’ itu hilang? Beres.

Kedua, ini yang saya lakukan. Memerhatikan relasi yang lebih berjangka panjang dan menirunya dalam pernikahan. Relasi dalam keluarga, relasi dengan sahabat, dan relasi dengan Tuhan.

Relasi dalam keluarga: Dalam keluarga kita harus menghormati orang tua dan berbagi dengan saudara. Lakukan juga dengan pasangan dalam pernikahan.

Relasi dengan sahabat: Kita bersahabat karena persamaan. Dalam pernikahan, fokuslah pada persamaan, bukan perbedaan.

Relasi dengan Tuhan: Tuhan sudah mengampuni kita yang berdosa. Pernikahan butuh kesediaan untuk saling mengampuni.

Baca Juga: Ketika Cinta Terasa seperti Cabai yang Tak Lagi Pedas, Begini Cara Mengembalikan Rasa Cinta yang Mulai Pudar

Berbeda dengan kedua isu lain, isu ketiga ini – kesetiaan, bisa dan perlu kita beri respons sebelum masuk dalam pernikahan.

Bagaimana respons kita?

“sampai maut memisahkan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here