Suatu kali ketika saya dan Mama tidak sependapat, saya melampiaskan banyak uneg-uneg saya pada Papa.

Saya merasa kesal melihat Papa selalu diam dan mengalah ketika sedang berdebat dengan Mama. Mengapa Papa tidak pernah mengutarakan keinginan hatinya yang sesungguhnya dan lebih memilih untuk mengalah seolah-olah menjauhi masalah? Saya merasa Mama terlalu semena-mena pada Papa saya.

Namun, Papa hanya menjawab, “Ya, ngapain ribut-ribut, Fel… kalau bisa damai, tenang buat apa ambil jalan ribut?”

Waktu itu saya tidak paham maksud Papa. Saya menganggapnya lemah. Lemah karena diam saja sekalipun diinjak-injak harga dirinya.

Lalu beberapa waktu ini muncul banyak berita keretakan rumah tangga artis. Mulai dari skala internesyenel sampai yang lokal.

Adam Levine yang mengaku tidak selingkuh, tapi mengirimi banyak DM menggoda ke wanita-wanita yang dianggapnya menarik. Kemudian muncul berita pernikahan Rizky Billar dan Lesti Kejora yang diwarnai dengan perselingkuhan dan KDRT.

Barulah saya menyadari, sesungguhnya pria yang lemah itu bukan Papa saya.

Papa saya sebenarnya memiliki banyak akses dan kesempatan untuk berselingkuh, namun ia tetap teguh setia memegang janji pernikahannya. Papa saya memiliki kekuatan untuk mengayunkan tinjunya ketika ia marah, namun ia tidak pernah melakukannya. Bahkan ketika suara Mama saya semakin meninggi, Papa saya tetap mampu mengontrol emosinya.

Papa saya memegang teguh prinsipnya, bahwa pria sejati tidak boleh menyakiti hati wanita. Tidak dengan ucapannya, tidak pula dengan perilakunya. Itulah mengapa Papa selalu mengalah, karena ia tidak ingin menyakiti perasaan Mama saya.

Sekejap pandangan saya berubah tentang sikap Papa. Ia bukan pria lemah seperti yang saya duga. Justru Papa adalah pria yang kuat. Dan seiring waktu berjalan ia tetap tidak berubah, memegang teguh prinsipnya. Sehingga tak sekalipun saya pernah melihat Mama saya menitikkan air mata karena ulah Papa saya.

Bukankah demikian seharusnya seorang pria menempatkan kekuatannya?

Terselip harapan tulisan ini menjadi pengingat bagi kita, terutama para pria; tentang bagaimana memperlakukan seorang perempuan.

Kekuatan tanganmu, alih-alih dipakai untuk memukul istrimu, gunakanlah untuk melindunginya. Jagalah hatinya dan jangan membuatnya menangis. Karena hati itu rapuh, dan bila terluka entah kapan ia bisa pulih.

Terakhir, saya bertanya pada Papa, “Apa rahasia yang membuat Papa tetap kuat memegang teguh prinsip ini?”

Jawabnya mengutip penggalan sebuah ayat kitab suci yang selalu diingatnya, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here