3. Cek Kesehatan
Sahabat saya melakukan cek kesehatan pada kekasihnya segera ketika Ia tahu bahwa kekasihnya pernah jatuh dalam dosa seksual di masa lalunya. Namun, sebenarnya ini adalah langkah terakhir yang harus dilakukan setelah mendapatkan hasil dari dua tahap pemeriksaan di atas: cek pertobatan dan cek kondisi kesehatan emosional.
Cek kesehatan wajib dilakukan jika hendak melanjutkan hubungan ke pernikahan. Bisa dibayangkan betapa menyedihkan jika orang yang tidak bersalah harus tertular penyakit menular seksual, bahkan yang mematikan seperti AIDS misalnya, hanya karena tidak pernah melakukan check up kesehatan sebelum pernikahan.
Akhir kisah, sahabat saya harus mengakhiri hubungan karena kekasihnya tidak lolos di dua check up yang pertama. Sekalipun secara fisik sehat, namun ketiadaan self-control pada diri kekasihnya itu selalu membuat masalah baru bermunculan. Keberanian untuk berselingkuh adalah salah satunya. Jikalau seseorang berani melanggar kekudusan seksual sebelum pernikahan dan tidak pernah bertobat, maka Ia punya punya dasar yang kuat untuk juga tidak menghargai kekudusan seksual dalam pernikahan.
Alasan kedua, yang sama kuatnya dengan alasan pertama, adalah demi mempertahankan kesucian seksualnya sendiri. Sekalipun Ia sadar, amat berat tantangannya, terlebih baginya sebagai seorang laki-laki. Alasan ketiga, setelah menjalani beberapa sesi konseling, kekasihnya memutuskan untuk menghentikan proses tersebut dan tetap mempertahankan perilaku lamanya.
Kepada sahabat saya itu, hanya satu kalimat ini yang saya katakan, “Engkau sudah membuat keputusan yang tepat!”






