Tanpa penyesalan dan pertobatan, sang kekasih akan berusaha merayu dan menyeret kita untuk juga ikut melakukan pre-marital sex. Hal ini disebabkan karena Ia tidak punya tekad untuk mengontrol keinginan seksualnya yang telah makin menjadi-jadi setelah pengalaman yang Ia alami. Dan, tentunya, pacar adalah orang yang akan Ia jadikan sebagai ‘tempat’ untuk memuaskan ‘kebutuhan’ seksual yang telah terlanjur menjadi-jadi tersebut.
Bagaimanapun, kita adalah manusia biasa, bila berlama-lama membiarkan diri dalam tekanan dan godaan seksual seperti itu maka suatu saat kita pun akan jatuh bersamanya.
Tekanan seksual tidaklah sama dengan tekanan di dalam pekerjaan. Dalam tekanan pekerjaan, endurance, sikap untuk tetap bertahan menghadapi situasi tersebut akan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih tangguh. Namun, dalam menghadapi tekanan seksual, sikap bertahan – tidak keluar dari tekanan – justru akan membuka kesempatan bagi kita untuk jatuh dan merusak diri kita sendiri.
Godaan seksual adalah untuk dihindari, bukan dihadapi.
Pertobatan pribadi pasangan yang pernah jatuh dalam dosa seksual adalah sebuah hal yang mutlak jika ingin tetap melanjutkan hubungan yang murni.
2. Cek Kondisi Emosional
Dosa seksual seseorang di masa lalu pasti memberikan dampak secara emosional, selain dampak-dampak lainnya.
Jangankan mereka yang belum menyesali dosa seksualnya, sekalipun sang kekasih telah bertobat, dampak emosional dosa seksual di masa lalu akan tetap dirasakan dan sangat mengganggu relasi, kecuali yang bersangkutan telah melewati tahapan pemulihan berupa terapi dan konseling. Proses pemulihan dan konseling tersebut harus dijalani dengan tuntas sebelum ada keputusan menikah, bukan setelah pernikahan.
“Kami terlalu sering bertengkar untuk hal yang tidak penting dan seringkali untuk alasan tidak masuk akal buat saya. Ia seringkali curiga saya “main hati” dengan perempuan lain tanpa bukti. Tak jarang Ia marah saat saya bercerita tentang teman perempuan, padahal sehari-hari yang saya ceritakan macam-macam, baik teman laki-laki maupun perempuan. Yang lebih aneh lagi, Ia menuduh saya tidak percaya kesetiaannya. Pada akhirnya, karena terdorong oleh emosinya yang labil, Ia berusaha membuat saya cemburu dengan pergi selama beberapa hari ke luar kota dengan pria yang baru dikenalnya. Saya tidak pernah tahu apa sesungguhnya yang terjadi selama beberapa hari dan beberapa malam itu,” tutur sahabat saya dengan sedih.
Emosi yang labil dan rusak memang bisa membuat seseorang melakukan berbagai hal bodoh dan membahayakan baik bagi dirinya dan orang lain. Dan tentunya, emosi yang rusak akan terus-menerus melukai sebuah relasi, sebaik apa pun kekasih barunya, sahabat saya itu.






