Karena permaculture berprinsip simbiosis mutualisme dengan alam, banyak keluarga dan komunitas di dunia yang memulainya. Hasilnya, mereka dapat memenuhi kebutuhan pangan dan kesehatan secara mandiri. Permaculture di luar negeri nyatanya mampu menyediakan hasil panen secara gratis untuk masyarakat yang membutuhkan di masa pandemi COVID-19.

Mungkinkah Diterapkan di Indonesia?

FAO memperingatkan pada Agustus 2020, dunia di ambang krisis pangan akibat pandemi COVID-19. Pemerintah Indonesia telah menyiapkan berbagai strategi menghadapi ketahanan pangan untuk menghadapinya. Salah satunya dengan pembukaan lahan baru untuk  pertanian bahan makanan pokok seperti padi dan umbi-umbian.

“Indonesia harus berbenah dalam ketahanan pangan, di mana setiap keluarga memiliki akses untuk mendapatkan bahan makanan yang cukup, aman, dan bergizi. Jika pekarangan mampu menjadi jawaban untuk ketahanan pangan keluarga Indonesia, negara ini tidak akan menghadapi krisis pangan selama pandemi,” kata Daawia mantap.

Kisah Ibu Daawia ini membuka mata saya, bahwa setiap kita bisa melakukan sesuatu untuk memerangi pandemi ini. Daripada hanya menghujat pemerintah dan was-was menanti antivirus ditemukan, kita bisa mengambil pilihan langkah-langkah kecil yang berarti.

“Menurut Guruji Gede Prama, manusia merawat Bumi agar mereka selamat.  Orang-orang yang tekun merawat Bumi, sebenarnya sedang merawat dirinya sendiri.” (Daawia Suhartawan).

Catatan Akhir:

Daawia Suhartawan juga menjadi narasumber pembahasan ketahanan pangan di Indonesia di beberapa media seperti Kumparan dan Kompas. Sedangkan ulasan tentang profil Beliau dapat dilihat pula di Fimella.com, GoodnewsfromIndonesia, dan Takaitu.com. Beliau dapat dihubungi di FB: Daawia Suhartawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here