Akhirnya Ibu Daawia terpaksa pulang ke Papua dalam keadaan sakit.  Di tahun yang sama, sang suami dipindah tugaskan ke Kabupaten Keerom. Daerah tersebut berbatasan dengan negara Papua Nugini, dengan kondisi alam 80% hutan.

Di daerah tersebut, Ibu Daawia dan suami mulai membangun rumah dan lahan yang luas. Beliau senang sekali pindah ke hutan, karena bisa menyalurkan kerinduan lamanya untuk berkebun. Dari sinilah, proses permaculture dimulai.

Apa Sih Permaculture Itu?

Permaculture adalah ekosistem kehidupan yang berdasarkan dan meniru pola alam. Jadi intinya, belajar bersahabat dengan alam, alih-alih melawannya. Misalnya, membeli produk lokal daripada impor untuk meminimalkan jejak karbon. Bisa juga menadah air hujan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Ibu Daawia mulai bercocok tanam menggunakan prinsip permaculture. Keluarganya mulai bertanam aneka sayuran, pohon buah, dan tumbuhan berbunga untuk mengundang serangga. Nantinya serangga akan berperan dalam penyerbukan. Ibu Daawia juga mulai memelihara hewan ternak, yang dimanfaatkan untuk sumber pakan sekaligus pupuk ramah lingkungan.

“Prinsipnya, tidak ada jejak pestisida dan meminimalkan efek kimiawi di Bumi. Jika kita mengolah Bumi dengan baik, maka akan terbentuk rantai makanan dan jaring-jaring kehidupan yang sehat. Konsep permaculture memberi relung pada wildlife dan mendukung kelestarian keanekaragaman hayati. Tidak ada pembunuhan atau penyemprotan hama dan penyakit,” urainya panjang-lebar.

Apakah efeknya bagi Ibu Daawia sekeluarga? Selain dapat memanen hasil kebun organik yang segar dan bergizi, tubuhnya melakukan self-healing. Pelan-pelan, ia mulai merasa bugar dan semakin sehat sejak kegiatan permaculture ini dilakukan.

Apakah Permaculture Efektif Menangkal Covid-19?

Kerusakan Bumi yang semakin memprihatinkan menyebabkan ketidakseimbangan alam. Menurut Ibu Daawia, para ilmuwan percaya bahwa kerusakan alam menyebabkan terjadinya ledakan (outbreak) mikroorganisme penyebab penyakit. Mereka menghantam manusia dengan berbagai cara. Salah satunya melalui pandemi berbagai jenis virus.

“Saya menghargai konsep Permaculture yang berpijak pada keyakinan ini: Jika Bumi tidak sehat, maka makhluk hidup tidak akan sejahtera. Karena itu, kita tidak boleh tamak dalam mengelola sumber daya yang ada. Dengan permaculture, diharapkan Bumi akan berangsur pulih,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here