Jelas perpisahan karena perceraian, akan memiliki nuansa yang berbeda. Bukan suasana haru atau sedih yang dialami, tetapi juga disertai dengan amarah yang luar biasa. Tidak jarang berbuntut menyalahkan orang lain alias membenarkan diri sendiri dan yang sejenisnya. Inilah yang menyebabkan perpisahan menjadi negatif terhadap orang-orang yang mengalaminya. Mereka menjadi takut kehilangan lagi di kemudian hari yang disebabkan trauma berkepanjangan karena masa lalunya.

Pernikahan hanya sekali sampai kematian memisahkan pasangannya. Kalau saya pribadi, menganut satu prinsip, “Apa yang disatukan oleh Tuhan, jangan diceraikan oleh manusia.”

Yang Positif dari Perpisahan

Perpisahan (di luar perceraian) harusnya menjadikan orang berpikir positif tentangnya. Banyak kejadian yang menunjukkan seharusnya perpisahan itu merupakan sesuatu yang positif, salah satu contohnya adalah perpisahan karena lulus dari tingkatan pendidikan. 

Kita bisa lulus dari jenjang SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi, merupakan hal yang benar, tidak ada orang yang mau terus tinggal di tingkatan pendidikan tersebut, pastilah kalau ada yang suka tinggal, akan dinilai bodoh oleh orang-orang di sekitarnya. 

Hal positif kedua dari perpisahan, kadangkala perpisahan juga bisa terjadi untuk menyelamatkan hidup seseorang agar terbebas dari jerat yang dapat menghancurkan hidupnya, misalnya terpisah dari pergaulan buruk atau pergaulan bebas, terpisah dari jerat pornografi, terpisah dari keterikatan dosa, dan lain-lain. Seringkali pergaulan yang buruk menyebabkan seseorang terjerat di dalamnya. Jika kita dipisahkan dari kondisi yang tidak baik tersebut, harusnya kita bersyukur, karena Tuhan masih menyayangi diri kita.

Contoh ketiga, seringkali orang tua harus rela berpisah dan melepaskan anaknya untuk mengambil studi di luar kota, luar pulau, atau luar negeri. Beberapa pengalaman membuktikan, kebanyakan anak-anak yang dilepas ini menjadi semakin dewasa dan mandiri. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here