Bahkan di kalangan keluarga Tionghoa yang terkenal dengan berbisnis, kita semua diajarkan untuk berdagang secara benar dan jujur. Saya masih ingat ada seorang teman yang berkata dan mengajarkan kepada saya, “Tim, dalam berbisnis, omongan itu yang dipegang.” Itu berarti kejujuran serta integritas dituntut dan dijunjung tinggi.

Banyak orang berkata, “Orang jujur akan rugi!” Bahkan lebih ekstrim, “Orang jujur akan hancur!” Akan tetapi, bagi kita orang benar, lebih baik rugi atau hancur, daripada dicap oleh orang-orang di sekitar kita ‘orang tidak jujur’ atau ‘pembohong’.

Siapa mau berkawan, bekerja, ataupun berbisnis dengan orang tidak jujur?

Bagi banyak orang, kejujuran itu barang langka. Namun kita bisa belajar kejujuran dari pendahulu-pendahulu kita, maupun dari Bali. Orang jujur belum tentu enak, karena bisa jadi orang jujur banyak musuhnya, tetapi tetaplah pegang bahwa kejujuran harus menjadi budaya semua orang, di semua tempat. Jadikan diri kita orang yang jujur, karena orang jujur dikasihi Tuhan.

Selamat beraktivitas. Sukses selalu!

Baca Juga:

Tentang Omaku, Kebohongannya, dan Aku yang Tidak Marah, Tidak Sama Sekali

Mengapa Kita Tidak Perlu Hidup dalam Kepura-puraan meski Banyak Orang Memilih Melakukannya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here