Seketika ia panik. Tas kerja yang berisi laptop dan isi-isi yang lainnya masih ada di dalam mobil itu. Saat itu ia sudah putus harapan, dan berpikir, “Wah … hilang sudah tas dan isinya.”

Yang luar biasa, ketika ia memeriksa dalam mobilnya, semua masih utuh. Tidak ada apa pun yang hilang. Ia pun berkata, “Kali itulah aku tahu bahwa apa yang diceritakan tentang kejujuran di Bali itu benar adanya!”

Satu hari setelah cerita itu saya dengar, saya pun mengalami peristiwa yang membuat jantung deg-deg-an. Dalam liburan ini, kami harus berpindah-pindah dari satu hotel ke hotel lainnya. Jumlah rombongan kami cukup banyak, tujuh orang, karena itu kami selalu mengumpulkan koper dan tas-tas yang lainnya terlebih dahulu sebelum memasukkan semuanya ke dalam mobil.

Tugas saya adalah sebagai sopir. Saya berpikir, istri atau anak-anak saya bisa saling menjaga dan mengingatkan. Pada waktu itu, semua koper sudah saya tata dengan baik di mobil. Kemudian kami berangkat ke airport untuk mengantar mertua dan kemenakan yang akan pulang terlebih dahulu.

Setelah mengatar mereka, kami sekeluarga mengikuti ibadah Minggu, lalu kami pindah ke hotel lainnya. Sesampai di hotel itu, delapan jam setelah check out dari hotel sebelumnya, saya baru menyadari bahwa tas ransel saya tidak ada di mobil. Sedangkan ransel saya itu berisi notebook, iPad, dan kamera mini!

Wah … saya benar-benar panik. Terlebih lagi mengingat notebook dan iPad tersebut banyak menyimpan file-file pekerjaan dan juga bahan-bahan pelayanan saya.

Seperti sahabat saya, saya langsung berasumsi buruk. “Wah … tas itu pasti hilang, karena tertinggal di tempat umum yang banyak orang!” Pundak saya pun terasa berat.

Dengan badan lemas, saya langsung menghubungi resepsionis hotel sebelumnya dan menanyakan apakah mereka melihat ada tas ransel yang tertinggal.

Resepsionis tersebut menjawab, “Ada Pak,” sambil menanyakan ciri-ciri tas tersebut ke saya! Ternyata tas ransel itu tertinggal di meja di depan ruang lobi, tempat yang terbuka untuk umum.

Puji Tuhan, saya berseru dalam hati.

Saat tiba di hotel tempat ransel saya tertinggal, saya menerima tas ransel itu dengan utuh. Ternyata Bali bukan saja asyik secara pesona alam, tetapi mereka memiliki masyarakat yang luar biasa. Mereka benar-benar menjaga budaya kejujuran, sehingga orang Bali selalu dikenang selama-lamanya sebagai orang yang memiliki integritas yang tinggi.

Pelajaran Tentang Kejujuran

Kejujuran pastilah tidak timbul seketika. Sejak kecil kita sudah dididik dan diajarkan oleh orang tua untuk mempraktikkan kejujuran. Saat kita berbicara, kita diminta jujur (terus terang), sewaktu bersekolah ataupun kuliah, guru serta dosen mendengungkan dan mengajarkan tentang kejujuran, bahkan ketika berkerja atau berbisnis, kejujuran menjadi hal yang paling penting.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here