Akan tetapi, kuatnya mimpi ingin mewujudkan resolusi tersebut, kami berjuang mengumpulkan uang untuk biaya percetakan. Alhasil, tahun lalu kami berhasil menerbitkan buku sendiri. Modal kami memang habis, namun senangnya tiada terkira.

Setelah buku cetak berada di genggaman tangan, muncullah rintangan selanjutnya, yaitu proses pemasaran. Untuk apa mencetak buku jika tanpa pembeli atau pembaca? Kami lalu menyusun strategi penjualan untuk pengembalian modal dan strategi promosi untuk mendapatkan pembaca atau pembeli.

Setelah berjuang kurang lebih tiga bulan, kami melakukan evaluasi karena merasa penjualan yang dilakukan tidak terlalu bagus. Buku yang terjual hanya sebanyak 200 eksemplar. Kami memerlukan penerbit baru yang memiliki cakupan pembaca yang tepat dan strategi pemasaran yang sudah matang. Tanpa pernah diduga, pada sebuah seminar, saya bertemu dengan direktur literatur Perkantas. Di sana saya mencoba mendiskusikan pada Beliau tentang buku kami yang kemudian disambut baik.

Singkat cerita, buku kami yang berjudul “Indah Tapi Tak Mudah” telah terbit dengan cover dan desain yang baru. Tidak hanya itu, pemasarannya juga jadi lebih mudah meskipun keuntungannya masih terbilang kecil. Namun saya belajar banyak dari kisah ini:

Tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here