Ketenangan hanya berlangsung 1 tahun. Keluarga kami sekali lagi harus mengalami goncangan. Celine bosan dengan aktivitas di rumah yang begitu-begitu saja. Ia memutuskan bekerja sama dengan adiknya untuk membuka sebuah usaha. Singkat cerita Celine kecantol dengan salah satu rekan usahanya. Keadaan rumah tangga kami pun berantakan lagi. 

Kami baru punya anak yang kedua. Anak kedua kami baru berumur 5-6 bulan pada waktu itu. Saya benar-benar tidak menyangka. Kami pikir kehadiran buah hati yang kedua akan mempertahankan rumah tangga kami, tetapi ternyata tidak. 

Waktu itu Celine minta untuk diceraikan saja. Dia ingin tinggal bersama dengan orang itu walaupun harus hidup susah, tinggal di rumah kecil, dan cukup meski hanya naik sepeda motor. Menurut Celine, laki-laki ini mampu mendengarkan isi hatinya serta bisa paham betul perasaannya. Saya sempat emosi dan berkata “Ya” ketika Celine minta diceraikan. Namun, akhirnya saya berpikir dan berdoa ulang. Saya menarik omongan saya dan katakan kepadanya, “Saya tidak mau bercerai.”

Masalah rumah tangga saya ini memang rumit. Celine bahkan sudah minggat sampai ke luar kota dan minta dinikahkan. Kedua orang tua menjemput Celine dan membawanya pulang. Sekali lagi, karena saya ancam teman usaha itu, akhirnya dia menolak Celine dan menjauhinya. Celine merasa sakit hati karena ditolak. Akhirnya keluarga kami kembali lagi bersama. Keluarga kami tampaknya berjalan baik, tetapi sepertinya masih menyimpan ganjalan-ganjalan yang tidak terselesaikan.

Beberapa tahun kemudia, seorang teman baik wanita Celine waktu dahulu sekolah di luar negeri, datang dan tinggal di rumah kami. Rupanya temannya ini berstatus janda, bercerai di usia sangat muda, dan memiliki kehidupan yang sedikit bebas. Kehidupan malam pun mendatangi Celine lagi. Saya mencoba melarang Celine, tetapi rupanya larangan saya bagaikan kekang bagi dirinya.

Pada satu titik, saya berusaha mempertegas jika Celine tidak berubah, lebih baik dia tidak tinggal di rumah kami. Saya tidak ingin semua anak perempuan kami mendapat pengaruh yang buruk karena melihat perilaku ibunya. Kami bertengkar dan akhirnya Celine keluar dari rumah untuk beberapa bulan. 

Kondisi keluarga kami semakin tidak jelas. Celine makin lama makin tidak jelas juga. Dia terjebak dalam pergaulan yang benar-benar bebas. Sepertinya keluarga kami akan berakhir di sini. Kejadian ini lebih parah dari sebelumnya. Celine masuk kehidupan free sex serta kehidupan malam yang sangat bebas. Sangat sulit untuk menghubunginya waktu itu dan kami hampir putus hubungan.

Singkat cerita, Tuhan baik. Tuhan menolong keluarga kami untuk bisa dipulihkan. Saya belajar untuk mengampuni, sebab saya percaya Tuhan mengasihi istri saya. Jika Tuhan mengasihi istri saya, saya harus belajar setuju dan searah dengan Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here