Di sisi lain saya punya keluarga yang datar-datar saja. Keluarga yang tidak mementingkan ungkapan perasaan, tidak ada acara berpelukan, tidak ada acara mengucapkan selamat hari ulang tahun, dan juga tidak ada pemberian kado atau surprise. Tidak ditemukan hal itu dalam keluarga saya. Jika kami berdebat dan berbeda pendapat, bisa jadi diakhiri dengan bersitegang. Tetapi jika pembahasan sudah selesai, paling lima menit kemudian sudah biasa-biasa lagi dan tidak perlu mengucapkan “maaf”.

Celine yang kekurangan kasih sayang di masa kecilnya, ditambah dengan rusaknya gambar diri akibat masa lalunya, bertemu dengan saya yang dibesarkan di sebuah keluarga tanpa perasaan, dan akhirnya menikah. Masa lima tahun awal pernikahan sepertinya tidak nampak. Tetapi sepertinya semua itu terpendam di dalam hati Celine, menumpuk, memberontak, dan akhirnya meletup.

Kami berdua terlibat aktif pelayanan di sebuah gereja lokal. Waktu itu ada tiga pasang keluarga muda yang aktif dalam kegiatan-kegiatan gereja dan kami semua bertumbuh dalam satu sel grup. Tiga istri ini merasakan kekecewaan menumpuk pada suami masing-masing dan mereka sering berkumpul bersama. Dimulai dengan kumpul-kumpul karaoke, pergi ke luar negeri bersama tanpa suami dan anak, sampai akhirnya diskotik. Perempuan pertama sedikit nakal, karena memulai dengan sebuah perselingkuhan. Perempuan kedua kecewa dengan suaminya, karena suaminya tidak mau bekerja keras dan hanya menumpang pada istrinya, yang orang tuanya punya pabrik. Terakhir adalah Celine, yang kecewa dengan keluarga asal dan kemudian kecewa dengan keluarga intinya. Tampaknya mereka semua menemukan sebuah kecocokan.

Lambat laun dari pergaulan itu, saya menemukan keadaan saya mulai berubah. Pada satu titik saya menjumpai Celine bersama dengan laki-laki dari luar negeri. Celine sering mengeluh bahwa saya kurang bisa mendengar, saya cuek, dan tidak mengerti perasaannya. Satu lagi yang dikomplainkan waktu itu adalah saya tidak bisa berhubungan suami istri dengan normal.

Memang saya mengalami ejakulasi dini dan sampai sekarang pun sedang dalam pengobatan. Saya mengerti Celine seperti tidak ada tempat untuk bersandar. Di sisi perasaan saya cuek, di sisi hubungan suami istri, Celine tidak menemukan kepuasan. Di sisi keuangan pun pada waktu itu keluarga kami merintis dari bawah dan harus hemat di waktu-waktu tertentu, sehingga dia menemukan sesuatu yang menyenangkan di luar keluarganya. 

Pada waktu itu saya dibimbing oleh rohaniawan dari gereja yang lama, dia bertanya, “Apakah yang saya mau?” 

Saya berkata, “Jalan saya buntu dan hidup rasanya berantakan. Katakan kepada saya firman Tuhan dan jalan yang benar, dan saya akan melakukannya.” Singkat cerita, saya berusaha mempertahankan dan mengambil istri saya kembali. Saya mengancam laki-laki dari luar negerti itu dan akhirnya Celine hidup dengan keluarganya lagi. Jadi menurut saya, Celine tidak minggat, hanya saja dia sering keluar rumah dan tidak pulang.

Akhir kisah ini, dari ketiga pasangan di satu sel grup, dua pasang bercerai dan hanya tinggal saya dan Celine yang bertahan sampai saat ini. Kami pamit dengan rohaniawan kami karena kami tidak bisa bergereja dan melayani lagi di gereja tersebut. Kami memutuskan untuk mengikuti mama yang bergereja di tempat tertentu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here