Bagaimana kamu menyembunyikan identitas dan perilaku seksual ini di tengah keluarga dan masyarakat?
Saya termasuk orang yang introvert. Saya tidak pernah menceritakan pergumulan saya tersebut kepada orang lain, termasuk orangtua saya pada waktu itu.
Saya selalu merasa berjuang seorang diri, dan merasa bahwa saya satu-satunya “manusia aneh” yang hidup di dunia ini.
Saya selalu berupaya kelihatan rohani ketika berada di gereja dan lingkungan gereja. Kadang, kedok “alim” yang saya miliki, saya gunakan untuk menjebak seseorang agar bersimpati dengan saya; sehingga saya, dengan coba-coba, membuat orang tersebut untuk dapat menjadi gay seperti saya.
Cara lain, saya hanya berinteraksi dalam media-media chat yang didominasi oleh kaum gay. Dengan komunitas-komunitas tertutup tersebut saya lebih merasa nyaman ketika berdiskusi tentang relasi sebagai seorang gay, juga pembahasan-pembahasan tentang kehidupan gay.
Kemudian, saya terkadang mengaku suka ataupun sudah punya pacar wanita, yang identitasnya saya rahasiakan kepada orang-orang. Terkadang, ketika bergaul atau sedang bersama-sama dengan teman bermain, saya sesekali membahas hal-hal seksual/pornografi dengan wanita, untuk menunjukkan bahwa saya masih memiliki ketertarikan dengan wanita.
Saya juga termasuk orang yang sangat berhati-hati ketika ML dengan seseorang. Bahkan, saya terkadang harus membayar mahal untuk menyewa tempat khusus agar identitas kami tidak diketahui. Beberapa kali saya juga menyewa tempat yang memang tersembunyi dan ekslusif untuk golongan gay.
Di beberapa media sosial (Friendster, Facebook), saya juga membuat 2 account yang berbeda. Yang satu untuk umum, yang satu khusus untuk komunitas gay. Begitu juga dengan account Line, WhatsApp, BBM. Hal ini saya lakukan supaya keberadaan saya dalam dunia gay tidak diketahui oleh orang lain.
Apa yang kamu rasakan ketika beribadah terkait dengan pergumulanmu sebagai gay?
Saya pasti selalu merasa bersalah setiap kali ML dengan seseorang (cowok). Terkadang saya ML dengan orang-orang Kristen dan bahkan aktivis gereja.
Tidak jarang juga terkadang saya penasaran dengan bagaimana respons Tuhan setelah saya berulang kali melakukan dosa yang sama, dosa homoseksual saya.
Apakah Tuhan masih mengasihi saya? Mengapa Tuhan tidak menghancurkan dan memusnahkan saya, manusia hina dan kotor ini? Apakah Tuhan marah? Apakah Tuhan diam saja dan sudah menyerah dengan diri saya yang berkali-kali jatuh dalam dosa yang sama?
Saya beberapa kali juga sempat terpikir untuk bunuh diri, supaya dapat terlepas dari ikatan dosa saya tersebut. Dulu saya mempunyai konsep: kalau saya mati, maka segala penderitaan saya sebagai akibat dari perilaku-perilaku seksual saya yang menyimpang tersebut dapat berakhir.
Ketika berdoa di gereja saya sering kali merasa malu dengan Tuhan, merasa jauh dari Tuhan, serta merasa lelah dan ingin menyerah saja.
Saya juga terkadang merasa kesepian dan berjuang seorang diri. Tanpa Tuhan, tanpa teman.






