Sejak kapan kamu tahu bahwa kamu gay

Sejak kecil, kurang lebih ketika saya masih berada di usia kelas 4 SD, saya sudah mulai merasakan beberapa keganjilan dalam diri saya. Pada waktu itu saya mempunyai sebuah kebiasaan yang unik dan berbeda dengan kebanyakan anak-anak cowok pada umumnya. Saya tidak menyukai olahraga. Hampir setiap hari saya bermain dengan boneka-boneka kecil (termasuk mainan-mainan plastik) yang saya miliki dan membuat sebuah cerita dengan menjadikan mainan-mainan tersebut sebagai tokoh-tokohnya. 

Pada waktu itu juga (kelas 4 SD) saya mengagumi guru olahraga saya (cowok) yang memiliki badan bagus (six pack). Beliau kelihatan manly/macho, dan saya menyukai sisi maskulin yang dimilikinya. Terkadang, sepulang sekolah saya selalu teringat-ingat akan guru olahraga saya tersebut. Ketika pelajaran olahraga, saya selalu dapat menikmati kehadiran guru olahraga tersebut, apalagi ketika beliau sedang mengajar. 

Saya dapat mengidentifikasikan diri saya gay setelah saya banyak membaca buku & artikel-artikel (blog) tentang seksualitas baik rohani maupun umum, serta melalui informasi-informasi yang saya dapatkan di internet. Barulah kemudian saya bisa memahami diri saya sebagai seorang gay; walaupun pada waktu itu saya bingung untuk mengidentifikasikan secara jelas, apakah saya seorang bi atau gay.

Apakah kamu pernah menjadi korban pelecehan seksual? Dan menurutmu, apakah itu yang menyebabkan kamu menjadi gay?

Ya, saya rasa demikian. Namun, tidak ada ingatan yang jelas akan masa kecil saya tersebut.

Pada waktu kecil, ada kemungkinan saya pernah dilecehkan oleh beberapa tetangga rumah. Dulu saya sering membeli jajanan (snack) di kios sebelah rumah. Banyak pemuda-pemuda kampung dan juga bapak-bapak nongkrong di sana. Beberapa dari mereka suka pegang-pegang alat kelamin saya. Mungkin saya semacam di-bully. Cuma memang tidak ada bukti-bukti yang jelas mengenai peristiwa-peristiwa tersebut.

Kemudian pada masa SMA, saya mempunyai seorang sepupu (cowok) yang tinggal di kota yang berbeda. Setiap liburan sekolah, saya selalu main ke rumahnya. Sepupu saya ini suka meraba-raba badan saya, kadang juga memeluk dan memegang-megang daun telinga saya. Hal ini membuat saya salah sangka, saya pikir ia suka dengan saya, sehingga saya mau saja dipegang-pegang olehnya.

Pada suatu malam, saya memberanikan diri untuk meraba-raba tubuh sepupu saya yang sedang tidur, hingga akhirnya juga memberanikan diri untuk memegang alat kelaminnya secara tidak langsung. Keesokan harinya, sepupu saya mengajak untuk melakukan anal sex pada malam hari dan saya menurutinya begitu saja. Semenjak peristiwa tersebut, relasi kami menjadi semacam relasi berpacaran.

Apakah kamu merasa telah berubah dari korban pelecehan seksual menjadi pelaku?

Pada waktu itu, saya mengalami kebingungan dan tidak dapat mendefinisikan apa yang saya alami. Saya belum begitu tahu mengenai istilah gay/homoseksual. Saya banyak bertanya kepada orang lain yang bisa saya percayai, membaca buku, dan mencari tahu melalui internet.

Akhirnya, sampai di satu titik di mana saya mencoba untuk chatting melalui sebuah “room” khusus gay dan lesbian melalui sebuah program chat, MIRC. Semenjak itulah saya mulai memberanikan diri untuk janjian bertemu dan melakukan aktivitas seksual (ML) tanpa ikatan dengan cowok yang baru saja saya kenal lewat media chat tersebut, one night stand.

Semenjak itu, saya mulai tertarik mencari orang-orang baru untuk ML, misalnya bergerilya mencari mahasiswa-mahasiswa cowok yang bisa dan bersedia saya ajak ML, pada waktu itu saya sudah masuk usia perkuliahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here