Pertama, seperti halnya love is a choice, siapa yang kita inginkan untuk memimpin kita juga pilihan dan itu sifatnya sangat pribadi. Bisa jadi dalam satu rumah—bahkan suami istri—punya pilihan yang berbeda. Saya pun pernah menulis di RibutRukun, ketika Natal cebong dan kampret bisa bersama-sama merayakannya.

Kedua, pasangan yang seindah dongeng—cowoknya tampan, ceweknya cantik—seperti Song-Song Couple, tidak menjamin kehidupan rumah tangganya secantik itu. Gibol pun tahu bahwa permainan cantik di lapangan tidak menjamin seorang pemain menjarangkan bolanya di gawang lawan. Justru pemain yang tampak kucel dan berantakan ternyata memiliki tendangan maut.

Ketiga, sekali lagi cinlok—cinta lokasi—berbahaya dalam membangun bahtera rumah tangga. Jatuh cinta pada pandangan pertama perlu dilanjutkan dengan penggalian bersama karakter masing-masing agar tahu apakah manusia batiniahnya arang atau sudah jadi berlian? Saya mengenal pasangan dosen-usahawan yang mula-mula tidak saling mengenal namun dengan berjalannya waktu pernikahan mereka, mereka bisa saling menyayangi satu sama lain.

Baca Juga: Inilah 3 Pemahaman Populer tentang Cinta Sejati yang Ternyata Justru Merusak Relasi

Keempat, di dalam hidup ini, kita harus memilih apakah kita bisa meliukkan tarian cinta mengikuti alunan gending atau menghentakkan kaki karena dirangsang oleh genderang perang.

Saat tugas bicara di Kanada, saya diberitahu kebiasaan unik landak kecil di sana. Saat puncak musim dingin, mereka merapatkan tubuh satu sama lain di dalam liang mereka dengan risiko saling tertusuk duri temannya. Mereka memilih tetap melekat agar hangat, meskipun terluka, ketimbang berpisah dan mati kedinginan.

Saat itu saya mencuit di twitter saya: “Jika landak saja bisa mengayunkan tubuh dengan tarian cinta, mengapa manusia lebih memilih untuk menabuh genderang perang?”

Kelima, saat Song-Song Couple bersenandung duka, mengapa kita tidak memulai lagi ritual cinta?

Tidak ada lagi cebong. Tidak ada lagi kampret. Mari melangkah bersama menuju cita-cita adiluhung Bapak Bangsa.

Mari kita renungkan apa yang Albert Camus goreskan bukan di atas batu dengan tinta sementara, melainkan di kedalaman hati dengan cinta abadi: 

“Don’t walk behind me; I may not lead. Don’t walk in front of me; I may not follow. Just walk beside me and be my friend.”

Photo credit: Fanny Kusumawardhani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here