Akhir 2012 aku merekrut seorang resepsionis di kantor. Seorang wanita beranak satu dengan penampilan yang amat menarik. Jujur aku akui, aku tertarik pada tubuhnya. 

Aku pun berusaha mendapatkan perhatiannya. Jurus-jurus PDKT aku keluarkan, rayuan-rayuan tak gentar aku lancarkan.

Upayaku berhasil. Tak hanya ia membalas gombalanku, kami pun jadi makin dekat. 

Kala itu, aku merasa cinta di kantor adalah sesuatu yang wajar selagi tak sampai berhubungan badan. Tak sedikit pun ada penyesalan dalam diriku, meski aku tahu, aku telah menduakan istriku.

Kegilaan tak berhenti di situ. Aku bahkan berani melakukan mark up di kantor untuk menutup biaya kencan. 

Setelah hampir tiga tahun berhasil mengakali anggaran, pertengahan 2015 kantor mengetahui tindakan mark up yang selama ini aku lakukan. Kontrakku diputus. Aku kehilangan pekerjaan.

Menganggur dan tanpa penghasilan, Amai tetap menerimaku apa adanya. Ia bahkan terus menyemangatiku, tanpa tahu, apa yang ada di belakang ini semua.

Ternyata perusahaan masih berusaha memperoleh kembali uang yang telah aku gelapkan. Mereka pun memanfaatkan resepsionis, yang mereka tahu dekat denganku, untuk mencari tahu keberadaanku. 

Bodohnya aku, masih menganggap wanita itu menghubungiku karena ia merindukanku. Tak pernah terlintas dalam pikiranku, ia hanya alat perusahaan untuk ‘menangkap’ aku. 

Persembunyianku terbongkar, demikian juga kebohonganku. Amai akhirnya tahu juga, semuanya.

Amai, istriku, yang hatinya telah kuhancurkan itu, menyerahkan dirinya ke kantor untuk mengambil alih tanggung jawab atas perbuatanku. Sedangkan wanita itu, yang selama ini ikut menikmati semuanya, seolah menjadi manusia suci, turut memojokkan aku. 

Untuk mengembalikan uang perusahaan, Amai harus menjual rumah BTN-nya. Rumah kenangan pemberian Bapak, yang menyimpan cerita perjuangan kami di awal pernikahan. 

Sekali lagi, Amai berkorban untukku.

Selama enam bulan kami bertahan hidup dari pinjaman, terutama dari keluarga Amai. Kami berusaha berjualan mie ayam, dan hanya mampu membawa pulang lima puluh ribu rupiah setiap harinya ke rumah.

Betapa teruji kesabaran dan kesetiaan Amai, istriku yang berhati malaikat itu.

Sedangkan aku. Aku masih terus memikirkan resepsionis bertubuh indah itu. Bayang-bayang menikmati tubuhnya tidak pernah pergi dari pikiranku.

Awal 2016, doa-doa yang Amai panjatkan akhirnya terkabul. Aku mendapatkan pekerjaan baru.

Di kantorku yang baru, seorang janda berusaha untuk mendekatiku. Namun aku tak berminat sama sekali dengannya. Entah apa sebabnya, apakah karena aku teringat Amai, atau resepsionis itu, aku tak tahu pasti.

Yang jelas, aku kembali menghubungi resepsionis itu. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku mengkhayalkan dapat kembali memeluk dan menciumnya. 

Chat mesra dan rayuan kembali kukirimkan kepadanya, terutama saat ia meminta bantuan uang dariku. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here