Ketika anak kami menginjak usia dua bulan, aku mengajak Amai pindah ke kotaku.
Aku mengira Mamah akan menyambut kami dengan gembira, mengingat itu kali pertama ia akan melihat cucunya. Apa mau dikata, harapan tak sesuai kenyataan. Semua biasa saja, tak ada sambutan istimewa.
Selang hampir sebulan tinggal di rumah Mamah, masalah antara Mamah dan Amai kembali timbul. Masalah yang menyebabkan kami harus keluar dari rumah.
Akhirnya kami tinggal di kamar kos milik keluargaku. Sepetak kamar berukuran 4X4 meter dengan sebuah kamar mandi. Tanpa fasilitas lain, selain perlengkapan rumah tangga yang diberikan orangtua Amai, kami menjalani hidup dengan bahagia. Di kamar itu pula anak kami belajar berjalan. Hari-hari kami diisi dengan canda tawa dan cerita bahagia.
Setelah si kecil berusia sepuluh bulan, Amai memutuskan untuk bekerja di sebuah kampus sebagai staf pengajar. Saat itu gajinya lebih besar dari gajiku, yang hanya bekerja sebagai guru honorer di sebuah SMK.
Sebagian besar kebutuhan rumah tangga kami, termasuk susu anak, pampers, hingga biaya pengasuh ditanggung Amai. Tak pernah sekalipun ia mengeluh.
Setiap pagi aku mengantar Amai ke kantor dengan motor bebek yang kupakai sejak kami pacaran dulu. Sore hari, aku menjemputnya. Setiap sore pula, sesibuk apa pun, Amai selalu berusaha memasakkan makanan kesukaanku: Martabak telur, buatannya.
Istriku sungguhlah seorang wanita sederhana. Ia hanya punya satu sepatu. Satu itu terus dipakainya hingga rusak. Tasnya juga satu, itu saja sepanjang ia bekerja. Bajunya terhitung dengan jari, itu pun sebagian besar baju kerja. Lipstiknya satu. Dipakainya hingga benar-benar habis. Ia bahkan menggunakan jarinya, mencungkili sisa-sisa lipstik yang ada untuk dipulaskan di bibirnya.
Hubungan kami dan Mamah akhirnya membaik juga. Kami pun pindah ke rumah tua peninggalan Nenek yang cukup luas.
Akhir 2011 Mamah meninggal. Aku larut dalam kesedihan.
Aku kalut. Sebentar lagi anak kami masuk TK, sementara kondisi ekonomi keluarga masih pas-pasan. Bayar tagihan listrik saja kadang kami tak mampu.
Amai kemudian menyarankan untuk menanyakan lowongan kerja ke rekan-rekan kuliahku yang sudah berhasil. Alhamdulillah, awal 2012 aku memperoleh kerja di Jakarta berkat kebaikan seorang teman kuliah.
Kami sekeluarga pun hijrah ke Jakarta. Amai rela melepas pekerjaannya demi menemaniku. Baginya, keluarga selalu nomor satu.
Di Jakarta, Amai mengajar lepas, sehari dalam seminggu. Selebihnya ia bekerja di rumah, menjadi ibu rumah tangga.
Jakarta dan gaya hidup hedonis orang-orangnya, tanpa aku sadari, ternyata memengaruhiku juga.






