Saya sedang merapikan kelas Sekolah Minggu saat seseorang menepuk punggung saya dari belakang. Ternyata salah satu koster senior di gereja kami. Di tempat saya beribadah, koster adalah semacam office boy yang mempersiapkan perlengkapan ibadah.

Beliau mengajak saya untuk bertegur sapa dan berbincang sejenak.

Anakmu telu lanang kabeh ya, Dik. Mengko kabeh isa mbelani ibuke, lho,” selorohnya dalam bahasa Jawa yang kental. Terjemahannya kurang lebih: anakmu tiga lelaki semua, ya. Besok semua bisa jadi pembela ibunya.

“Ah, Mas Rio (bukan nama sebenarnya) juga enak. Anaknya gadis semua. Besok kalau sudah tua pasti diperhatikan anak-anak,” balas saya.

Mas Rio mendesah panjang. Lalu ia bertanya pelan,

Mosok kowe ora ngerti kisah keluargaku?”

Saya menjawab bahwa hanya mendengar kabar berembus yang belum terbukti kebenarannya, sehingga saya berasumsi bahwa cerita yang beredar tidak benar. Memang cerita seperti apa yang saya dengar?

Singkat kata, tersiar kabar bahwa sang istri telah setahun lebih pergi meninggalkannya. Anak-anaknya diajak serta, sehingga Mas Rio kini hanya tinggal seorang diri. Meskipun demikian, ia tetap berusaha bekerja sebaik mungkin.

“Jadi pas istriku reuni sekolah, kepincut teman lamanya. Luwih tuwa istriku, tapi duite luwih kenceng,” kata Mas Rio.

Memang faktor uang masih memegang peranan penting dalam perselingkuhan, entah itu sang pria lebih tua atau muda.

Aku pas pulang kerja ora tau dicepaki panganan. Jarene bojoku, anak-anak wae sing diopeni. De en ora gelem urusan karo aku,” lanjutnya.

Saya bisa membayangkan, bahwa pria ini pasti sedih dan sakit hati saat mendapati meja makan dalam keadaan kosong. Istrinya berkata terang-terangan bahwa ia memilih mengurus anak-anaknya tanpa memedulikan suaminya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here