“Tidak ada sih, cuman menurut pengamatan saya ya, mohon maaf kalau salah, pacarmu itu tidak cantik-cantik amat lho. Beda dengan kamu yang tingkat kegantengannya di atas rata-rata.”
Saya tak sepenuhnya jujur mengatakan kalimat itu. Bukan tidak cantik-cantik amat, tetapi sebenarnya memang tidak cantik dalam pandangan pria pada umumnya.
Tawa pria itu membahana di ruang cafe. Beberapa orang menoleh ke arah kami.
“Saya sudah pernah pacaran sama beberapa orang. Iya sih, ini yang paling kurang cantik dibandingkan dengan yang lain. Tapi, saya paling merasa ‘klik’ dengan yang ini. Soal tampilan? Tenang aja, khan ada salon dan operasi plastik kalau perlu. Saya sih ga merasa itu perlu,” rangkaian kalimat ini mengalir lancar dari bibirnya seolah ia sudah sering mengatakannya.
Memilih Jodoh itu
Makin lama melakukan percakapan dengan mereka yang sudah menikah atau sedang berpacaran membuat saya yakin satu hal ini: memilih jodoh itu seperti memilih sepatu.
Ada yang indah di mata, tetapi kurang nyaman ketika coba digunakan. Ganteng atau cantik tetapi ngga nyambung kalau ngobrol. Konflik terus menerus ketika pacaran.
Ada yang nampak biasa di depan mata, tetapi sangat nyaman ketika coba digunakan. Awalnya biasa saja, tetapi makin lama, makin nyaman bersama. Makin saling mengerti dan memahami. Makin merasa “klik”
Ya bersyukur sih jika ketemu dengan yang indah di depan mata dan nyaman digunakan. Tapi, sejujurnya ini langka. Selangka kamu mendapatkan hadiah undian beneran dari bank.
Jika harus memilih antara indah dan nyaman? Dengarkan nasihat saya: pilihlah yang nyaman menemani perjalanan kehidupan. Tanpa rasa nyaman keindahan itu jadi membosankan.
Soal tampilan yang biasa atau malah di bawah rata-rata bagaimana? Khan malu juga punya pacar yang begitu?
Lho kan itu gunanya ada salon dan operasi plastik?
Baca Juga:






