“Mana pacarnya?” Ini pertanyaan yang paling dihindari oleh kaum jomlo. Tak heran banyak kaum jomlo yang galau menjelang acara kumpul keluarga, kalau bisa cari alasan untuk tidak hadir. Abis bagaimana dong? Salah-salah, nanti malah dijodohkan atau diceramahi panjang lebar.

Banyak kaum jomlo yang berharap ada pacar cantik/ganteng yang bisa disewa seperti di luar negeri atau di film-film. Di mana ada masalah, di situ akan ada yang menyediakan solusinya. Untuk para jomlo galau, pacar sewaan online digayang-gayang bisa jadi alternatif solusi. Apalagi, platform pacar sewaan online sudah ada di Jepang dan Cina dengan cukup banyak peminat.

Di Indonesia sendiri, aplikasi pacar sewaan mulai berkembang, khususnya di beberapa kota seperti Bandung, Jakarta, Jogja, dll. Tren ini pun ramai diperbincangkan. Benarkah ini solusi ampuh bagi kaum jomlo yang ingin mencicipi bagaimana rasanya punya pacar? Benarkah pacar sewaan ini menjadi solusi bagi kegalauan para jomlo?

Mari kita bahas beberapa kegalauan akut para jomlo yang sering menjadi alasan kuat mendambakan pacar sewaan.

1. Mengusir Rasa Sepi

Banyak jomlo mengalami “BT” akut alias butuh tati tayang. Mereka juga kekurangan “vitamin K” atau vitamin kasih sayang. Masalahnya, cari pacar untuk memenuhi kebutuhan ini tidaklah mudah. Apalagi bagi kaum introver yang tidak paham cara pedekate. Juga buat mereka yang berkali-kali ditolak atau yang dihindari dalam lingkup pergaulannya. Mencari pacar seperti mission impossible.

Dalam diri mereka ada rasa penasaran, membayangkan getaran saat berjalan dengan pegangan tangan di mall. Atau rasa geli-geli girang saat membaca chat yang memanggil “sayang”, terlebih bila disapa saat baru bangun tidur. Kadang iri melihat teman sebelah memegang gawai sambil tersenyum lebar; pasti pacar mereka menanyakan apakah sudah makan. Dan alih-alih berbaring menatap langit-langit, mereka juga ingin terbang ke langit ketujuh menerima pesan dari pacar sebelum tidur.

Dapatkah pacar sewaan memenuhi kebutuhan “vitamin K” dosis tinggi ini?

Tidak disangkal, pacar sewaan bisa saja melakukan semua itu; mulai dari pegangan tangan, kirim pesan tiap jam, hingga memanggil manja “sayang”. Ketika mereka mengalami hal-hal ini, kebutuhan itu terpenuhi sedikit demi sedikit. Namun, masalahnya, mereka tidak bisa memungkiri bahwa semua perhatian itu palsu. Mereka tidak benar-benar disayang dengan tulus, karena semua ini dilakukan atas dasar bayaran. Bisa saja mereka merasa nyaman diperlakukan baik oleh pacar sewaan itu, tetapi sangat kecil kemungkinannya untuk melanjutkan hubungan.

Mungkin kamu teringat akan film “Love for Sale” yang memiliki ending yang manis karena pada akhirnya pacar sewaan itu menjadi pacar sungguhan. Tetapi ingat, itu terjadi di dalam film. Pada kenyataannya, kecil sekali kemungkinan hal itu terwujud dalam hidup ini. Karena sosok yang ditampilkan sebagai pacar sewaan tentu bukanlah pribadi aslinya. Dia bisa berpura-pura manis, padahal sedang kesal atau marah. Dia bisa terus berkata-kata mesra, padahal tidak ada perasaan suka, bahkan bisa jadi antipati. Dan, kata-kata yang mesra ini dia umbar pada pada banyak orang sekaligus, sebagai kliennya, bukan hanya pada kamu saja.

Dengan kata lain, semua ini seperti halusinasi sesaat yang membawa rasa candu. Ketika kamu sudah benar-benar merasa nyaman dan jatuh cinta, kamu akan bertemu sebuah fakta, bahwa hubungan tidak bisa berlanjut menjadi kenyataan. Semuanya harus berakhir. Bagaimana pun juga, pada kebanyakan kasus, perpisahan itu harus terjadi. Intimacy yang dibangun dalam hubungan sewaan itu semu atau palsu.

Mungkin sisi positifnya adalah kamu belajar bagaimana berkomunikasi dengan lawan jenis; sebuah hal yang selama ini tidak dilatih secara intensional. Tetapi, pada akhirnya kamu tetap harus menghadapi kenyataan bahwa kamu harus melakukan pedekate dengan perempuan/pria lain jika ingin benar-benar mencari pasangan hidup yang serius untuk menuju ke pernikahan.

2. Teman untuk Acara Keluarga

Akhirnya kamu punya gandengan untuk menghadiri acara keluarga. Solusi tepat agar tidak mendapatkan tekanan dari keluarga. Benarkah?

Iya dong. Coba bayangkan jika kamu membawa pacar di acara keluarga, tidak akan ada lagi yang bertanya, “Mana pacarnya?” padamu. Tetapi, “Jadi kapan nikahnya? Jangan lama-lama!“ akan muncul di hadapanmu. Nah loh! Bagaimana jika pada saat itu orangtua memberi target bulan dan tahun pernikahan? Bukankah masalah baru akan muncul?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here