Saya adalah perempuan yang menikah. Tahun ini tahun ke-14 pernikahan saya dengan suami.

Jika saya harus menjawab pertanyaan di atas, maka saya akan menjawab:

“Ya.”

Pernikahan itu penting bagi saya. Pernikahan adalah keputusan terpenting kedua dalam hidup saya [keputusan penting pertama adalah keputusan tentang siapa Tuhan yang saya percayai].

Ketika Tuhan mengizinkan saya menemukan pria yang tepat, saya memutuskan untuk menikah. Saya tidak menyesali keputusan saya; bahkan saya sangat bersyukur atas keindahan pernikahan yang Tuhan berikan kepada saya dan suami, yang tentu saja, beserta paket lengkap suka-dukanya.

Baca Juga: Jika Jodoh di Tangan Tuhan, Bagaimana Mengetahui Pasangan yang Tepat untuk Saya?

 

Namun, saya merenung:

Seandainya dalam perjalanan cinta saya dulu, saya tidak menemukan pasangan yang tepat, apakah saya akan ‘memaksa diri’ untuk menikah?

Saya menjawab:

“Tidak.”

Ada pernikahan yang baik. Namun banyak juga pernikahan yang buruk dan hancur karena berbagai penyebab. Banyak perempuan yang terjebak di dalam pernikahan semacam ini harus menanggung hidup yang penuh luka dan kepahitan sepanjang hidupnya. Tak jarang mereka berkata, “Andai saya tahu pernikahan saya akan menjadi seperti ini …” atau “Saya menyesal,” atau juga “Kalau saya tahu begini, maka lebih baik saya hidup sendiri.”

Baca Juga:  Tidak Cukup Cinta Saja. Rumah Tangga Menjadi Neraka atau Surga, Ini 3 Faktor Penentunya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here