Memang tak dapat dimungkiri, banyak perempuan dewasa masih hidup di tengah lingkungan sosial yang penuh tekanan. Perempuan lajang dipandang sebelah mata.

Orang tua sulit menerima jika anak perempuan mereka belum menikah, apalagi jika usia anaknya sudah kepala tiga. Mereka sibuk mencarikan jodoh buat anaknya supaya segera ‘laku’. Kadang-kadang sang anak malahan cuek saja, tetapi ada juga yang menjadi sangat gelisah dan dipenuhi perasaan bersalah, “Aku tidak bisa membahagiakan orang tuaku!”. Akhirnya mereka terpaksa menyerah pada pilihan orang tua atau memilih pria dengan asal dan instant demi memenuhi harapan orang tua dan lingkungan.

Di sisi lain, banyak  perempuan dewasa memiliki cara pandang keliru bahwa hidup mereka baru utuh jika mereka menikah. “Aku baru merasa berharga ketika aku menikah, karena berarti ada seseorang yang mengasihiku.”

Bahkan, ada pula perempuan yang berpikir, “Yang penting nikah dulu, bubar tidak apa-apa, pokoknya sudah pernah menikah.”

Baca Juga: Perempuan Pintar dan Mandiri, Jangan Turunkan Kualitas Dirimu demi Jodoh. Tidak Perlu Khawatir Menjomblo, Pria Seperti Ini yang Cocok Untukmu

 

Saya jadi berpikir soal ungkapan bahwa istri adalah “garwa” [sigarane nyawa = belahan nyawa]. Istilah ini bisa menyesatkan,

seolah-olah perempuan itu hanya setengah nyawa, baru utuh jika bertemu suami.

Padahal, menurut saya “garwa” itu berbicara tentang kedekatan, bukan tentang keutuhan hidup.

 

Dalam perenungan pribadi saya beberapa belas tahun yang lalu sebelum saya menikah, Tuhan memberi pencerahan buat saya.

“Kebahagiaanmu tidak harus ditentukan oleh teman hidupmu. Tetapi oleh Aku dan di dalam Aku. Teman hidupmu adalah teman seperjalanan untuk berbagi kasih dan kebahagiaan yang Kuberikan, tetapi tidak menentukan kebahagiaan.”

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here