4. Cheer up!
Jangan terus bersedih hati. Life goes on!
Memang ada keluarga yang terlalu kolot, terlalu keras.
Saat ini yang terjadi denganmu, diamlah. Ambil waktu jeda sejenak. Untuk apa? Untuk berdoa.
Kisah kasih kelabu berjalan seakan tanpa arah. Meski tahun demi tahun bergulir, kami tak ingin pindah ke lain hati. Hanya doalah yang menguatkan langkah, lima belas tahun yang lampau itu. Saat air mata selalu hadir di setiap tapakan kaki, karena penolakan, penerimaan yang seakan terasa mustahil, hanya doalah yang menguatkan hati untuk terus mencinta.
Saya ingat masa ketika saya menangis di suatu malam. Saat kalimat, “kita putus saja” begitu ingin saya katakan, sebuah pesan singkat terbaca di layar handphone second ungu saya. Seorang yang begitu dekat menulis,
“Hati raja seperti batang air di dalam tangan Tuhan, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini.”
Saat orang tua pasangan belum atau tidak merestui hubungan cinta, atau mungkin orang tua kita sendiri tidak setuju dengan alasan perbedaan suku, hati mereka pun, hanya Tuhan yang bisa menentukan arahnya.
Jangan patah semangat untuk terus mencintai. Setidaknya, berdoalah dulu. Ikut sertakan Tuhan dalam hubungan cinta. Itu yang paling penting.
Diam,
berdoa,
dan tunggu.
Mungkin kita pikir, mau tunggu sampai kapan? Setahun, dua tahun, keburu tua? Tentu tidak selama itu.
Tunggulah, setidaknya sampai ada perubahan.
Baik perubahan hati orang tua untuk bisa menerima. Atau mungkin perubahan hati sendiri hingga bisa menerima, apa pun keputusannya.






