Seiring waktu, Sean kemudian mulai belajar duduk. Itu pun harus dilakukan dalam jangka waktu yang sangat singkat karena tulang belakangnya tidak akan kuat untuk menopang tubuh kecilnya bahkan dalam waktu yang sebenarnya tidak terlalu lama. Pertumbuhan badannya juga terhambat dan berhenti ketika tingginya mencapai 90 cm, yaitu ketika ia berada di kelas 3 SD.

Awalnya, dokter mendorongnya untuk mencoba berdiri. Setelah melewati banyak kesakitan karena kegagalan, mereka kemudian menyadari bahwa tulang-tulang Sean tidak cukup kuat untuk menopang badannya.

 

Pada hari Halloween yang telah ditunggu-tunggunya itu, Sean memakai kostum mumi. Ia sangat bersemangat dan menunjukkannya dengan berputar-putar di lantai. Ia tidak sabar menanti untuk ke sekolah dan menunjukkannya kepada teman-temannya.

Ketika ia berputar dengan penuh semangat, kaki kirinya terbentur daun pintu. Dan segera terdengar bunyi.

K R E K!

Sean tahu apa yang telah terjadi. Ia sangat mengenali kondisi tubuhnya untuk tahu, tulang kakinya baru saja patah.

Akan tetapi, berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya, kali ini sesuatu yang baru muncul dalam dirinya. Bukan, bukan rasa sakit. Melainkan sebuah amarah. Amarah yang sangat besar meluap keluar. Ini tidak adil!

Dan dengan sekuat tenaga, Sean berteriak:

 

“MENGAPA SAYAAAAAA?

APA YANG TELAH SAYA LAKUKAN

SAMPAI HARUS MENGALAMI SEMUA INI?”

 

Mendengar itu, ibunya segera berlari mendekat dan berlutut di samping Sean. Ia tahu apa yang harus dilakukan untuk menolong Sean, walaupun sangat terbatas.

Para ahli medis telah menyampaikan sebelumnya bahwa satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah membiarkan Sean berada di tempat dan posisi yang sama ketika tulang itu patah hingga sembuh dengan sendirinya. Tidak peduli apakah itu di ruang tamu, di kamar, atau di mana saja, Sean harus tetap berada di situ, dengan posisi itu. Makan, minum, bahkan buang air harus dimodifikasi sehingga bisa dilakukan dengan posisi yang sama.

Pada umumnya, dibutuhkan empat hingga enam minggu untuk patahan itu bisa tersambung kembali.

Baca Juga: Tidak Selalu Kita Punya Jawaban untuk Setiap Pertanyaan. Hidup adalah Misteri untuk Dijalani, Bukan Sekadar Masalah untuk Dipecahkan

 

Ibunya berusaha menenangkan Sean dengan menggunakan cara-cara yang pernah dilakukan. Ia berusaha mengalihkan perhatian Sean dengan berbagai pertanyaan tentang kesukaan Sean. Akan tetapi tak lama kemudian, ia berhenti.

Ibunya bisa melihat amarah besar di mata Sean. Ia menyadari bahwa ada yang berbeda dengan Sean pada hari itu.

Setelah beberapa waktu, ibunya mengajukan sebuah pertanyaan kepada Sean. Dan lewat pertanyaan ini, jalan hidup Sean berubah total.

Baca Juga: Sederhana, tapi Bisa Mengubah Hidup Anak-Anak Kita. Orang Tua, Pastikan Anak-Anak Kita Pernah Mendengarnya!

 

Sambil mengusap kepala Sean yang basah dengan keringat karena kesakitan dan amarah, ibunya bertanya dengan lembut,

“Sean, apakah ini akan menjadi sebuah hadiah atau sebuah beban?”

 

Hadiah? Demikian pikiran pertama yang muncul dalam diri Sean.

Hadiah? Hadiah itu sesuatu yang datang ketika kamu berulang tahun. Hadiah itu sesuatu yang kamu buka dan setelah itu berteriak kegirangan karenanya.

 

Akan tetapi, sebelum ia menjawab pertanyaan ibunya, sesuatu terjadi dalam dirinya. Sebuah panggilan dan tujuan hidup datang menghampirinya. Ia merasakan kehangatan angin hikmat yang menyapu seluruh badannya.

Photo credit: Facebook Sean Stephenson

“Sean, apakah ini akan menjadi sebuah hadiah atau sebuah beban?”

 

Pada saat itu, anak kelas 4 SD yang sedang menderita kesakitan dan kekecewaan ini menyadari sesuatu yang sangat penting. Pertanyaan ibunya itu memberikan titik terang kepada jalan hidupnya.

Terlepas dari segala kekurangannya, Sean selalu tahu bahwa ia mencintai hidupnya. Ia juga selalu tahu bahwa kesakitan juga akan selalu menemaninya. Akan tetapi pada hari itu, ia menyadari bahwa ia bisa mengajarkan orang lain untuk melakukan hal yang sama: mencintai hidup di tengah semua kesakitan.

“Sean,” ibunya kemudian berkata,

“Sakit adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Pada akhirnya, semua orang akan mengalaminya. Penderitaan, sebaliknya, adalah sebuah pilihan.”

Dan sejak hari Halloween itu, hidup Sean berubah. Ia menerima sebuah hadiah. Hadiah yang mengangkat kemarahannya dan memberikannya alasan untuk tidak pernah menyerah.

Pertanyaan ibunya itu menyadarkan Sean bahwa ia selalu memegang kendali atas respons yang diberikannya. Dan di hari itu, Sean melihat jalan lain yang bisa ia ambil. Jalan yang lebih baik.

Baca Juga: Tak Pernah Kehidupan Mengambil dari Kita, Selain untuk Mengganti dengan yang Lebih Baik. Lebih Baik di Mata Sang Empunya Kehidupan

 

Bagaimana dengan Anda dan saya hari ini? Adakah kita sedang mengalami penderitaan atau kekecewaan yang mendorong kita untuk menyerah atau marah? Apakah beban hidup terasa terlalu berat untuk kita jalani?

Biarlah penggalan kisah hidup yang Sean Stephenson ceritakan dalam bukunya Get Off your “But” ini menginsipirasi kita untuk mengalahkan alasan-alasan yang sering kali kita pakai untuk menolak menjadi lebih baik. Sama seperti Sean, kita pun memegang kendali atas respons yang kita berikan terhadap tantangan dan penyakit yang kita hadapi.

Baca Juga: Jika Saja Kita Bersedia Membukanya, Sesungguhnya Tersimpan Keindahan di Balik Luka Hati yang Kita Punya

 

Janganlah pernah menyerah untuk berjuang. Demi keluarga kita, demi masa depan yang lebih baik, demi relasi dengan pasangan dan anak-anak kita.

Dan untuk semua kejadian yang pernah kita ratapi atau sesali, biarlah pertanyaan ibu Sean kembali menyadarkan kita bahwa ada cara lain untuk melihat hal tersebut:

 

“My dear fRRiends,

apakah ini akan menjadi sebuah hadiah atau sebuah beban?”

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here