Tan Giok Lie, di dalam bukunya Generasi ke Generasi memperjelas hal ini dengan mengatakan,

“Menurut hemat saya, quality time berpotensi menciptakan suatu relasi dan komunikasi yang cenderung ‘formal’ dan ‘tidak natural’, yang akan meminimalisir timbulnya spontanitas dalam kehangatan dan keterbukaan satu dengan lainnya.

Anak-anak ‘dipaksa’ untuk menyesuaikan diri sebisanya dengan jadwal orang tua. Waktu yang telah ditentukan belum tentu dibutuhkan anak. Dalam banyak kasus, anak-anak mengharapkan kehadiran dan ketersediaan waktu orang tua pada saat mereka merasa sangat membutuhkannya.

Jadi, sebenarnya, ide quality time ini bukanlah hal ideal.”

Di dalam banyak kasus, anak-anak mengharapkan kehadiran dan ketersediaan waktu orang tua pada saat mereka sangat membutuhkannya. Click To Tweet

Lie juga mengutip kisah seorang anak perempuan dari Bob Pierce, pendiri World Vision. Anaknya telah mencoba bunuh diri berkali-kali karena tidak mengalami kasih sayang seorang ayah. Pekerjaan ayahnya yang amat banyak dan luas, mengelilingi satu benua ke benua yang lain, membuatnya jarang sekali bertemu dengan sang anak. Pada akhirnya, ketika kerinduan kasih seorang ayah tidak pernah didapati, anak perempuannya memutuskan untuk bunuh diri.

Baca Juga: Relasi Keluarga Nyata dalam Kelindan Dunia Maya: Review Film “Searching” [Major Spoiler Alert]

 

 

Kembali Membalik yang Terbalik

Ada beberapa hal tentang hubungan antara anak dan orang tua yang terbalik hari ini.

Pertama, orang tua harus memahami bahwa tugas pendidikan yang utama bukanlah di tangan sekolah, melainkan orang tua. Anak memang perlu sekolah, tetapi pendidikan utama seharusnya terjadi di rumah, bukan di gedung atau lembaga pendidikan. Namun nyatanya, banyak orang tua yang berpikir bahwa tugas mereka adalah mengantar anak sekolah, bukan mengajari anak di rumah.

 

Kedua, hari ini tugas untuk memberikan perhatian, kasih, dan perlindungan bukan dipegang tangan orang tua, melainkan dipercayakan pada tangan para pengasuh. Waktu yang dihabiskan orang tua bersama anak hanya tiga hingga empat jam sehari, sedangkan mereka hampir seharian penuh bersama pengasuh. Maka, jangan salahkan jika orang yang lebih memahami kebutuhan sang anak adalah para pengasuh dan bukan orang tua.

 

Ketiga, pergumulan seorang anak bukan hanya tentang sekolah dan sekolah, tetapi banyak hal menyangkut emosional. Anak bagaikan pendatang baru di dunia, ia penasaran dengan banyak hal dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya. Tugas orang tua adalah memberikan telinga untuk mendengarkan pergumulan-pergumulan mereka.

Namun, seringnya orang tua cenderung hanya bertanya hal-hal yang mereka inginkan dari anak mereka.

“Ujian dapat nilai berapa?” 

“Ranking berapa?” 

“Sudah belajar atau belum?”

 

Pernahkah orang tua bertanya,

Are you happy?”

Baca Juga: Sederhana, tapi Bisa Mengubah Hidup Anak-Anak Kita. Orang Tua, Pastikan Anak-Anak Kita Pernah Mendengarnya!

 

Keempat, pendidikan memang diperlukan seorang anak. Akan tetapi, hal yang tidak boleh dilupakan adalah soal kerohanian seorang anak. Setiap orang memiliki kebutuhan rohani yang perlu dipuaskan. Hal ini juga mendorong pertumbuhan karakter diri menjadi lebih baik.

Sekolah membentuk pengetahuan anak, tetapi kerohanian membentuk karakter dan citra diri anak.

Jangan hanya bertanya, “Sudah kerjakan PR?”, tetapi tanyakanlah juga, “Sudah berdoa belum?” Jangan lupa untuk melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan rohani untuk mendidik karakter diri mereka secara benar.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here