2. Dokter dan Perawat Harus Siap Bekerja Lebih dari 24 Jam
Dokter kandungan yang dua kali membantu saya melahirkan bercerita, setiap hari ia tidak bisa tidur lebih dari 3 atau 4 jam. Pagi-pagi ia harus mengajar, lalu dilanjutkan dengan praktik di rumah sakit angkatan laut. Kelar praktik, ia harus praktik lagi di rumah sakit lainnya. Total ada 3 tempat ia bekerja secara bergantian setiap harinya.
Malam hari, ia pulang larut malam. Bisa jam 2 atau jam 3. Baru setelah itu, ia bisa beristirahat. Dengan catatan, tidak ada pasien atau rumah sakit yang mendadak menelepon karena sesuatu yang sifatnya urgent.
Ketika ketuban saya pecah pukul 4 pagi, saya langsung menelpon beliau. Walau baru tidur sekitar dua jam, ia tetap mengangkat telepon saya dan menjawab dengan baik. Tepat pukul 6 pagi, ia sudah muncul di rumah sakit dan siap mengoperasi saya.
Saya tak dapat membayangkan, apa jadinya jika dalam sehari saya tidak bisa beristirahat, apalagi tidur selama delapan jam. Mungkin saya sudah jatuh sakit. Ya, mungkin dokter kandungan saya memiliki kekuatan bagai manusia super, hingga bisa tetap bertahan dengan rutinitas dan tuntutan pekerjaan seberat itu.
3. Dokter dan Perawat Harus Melayani Orang Sakit
Ketika melayani orang yang sehat, tentunya tidak terlalu jadi merepotkan. Orang sehat bisa mengerjakan banyak hal sendiri tanpa perlu bantuan orang lain. Lain halnya dengan orang sakit. Mereka membutuhkan banyak sekali bantuan, belum lagi jika penyakit mereka termasuk berat. Tidak mudah merawat orang yang sakit.
Saya pribadi sewaktu kecil memiliki keinginan untuk menjadi dokter. Namun kemudian, saya menyadari, saya tidak memiliki kemampuan untuk melayani orang sakit. Saya cenderung (maaf) jijik ketika melihat muntah atau darah atau kotoran tubuh orang. Saya menyadari jauh lebih banyak orang yang seperti saya, dibanding orang yang mau melayani orang-orang sakit.
Baca Juga: Menjadi Ayah Hebat Anak Berbakat
Oleh karena itu, saya ingin memberikan apresiasi kepada para dokter dan perawat yang terpanggil untuk melayani orang sakit. Sungguh sebuah tugas dan pekerjaan yang mulia sekali. Saya juga ingin berterima kasih atas setiap perhatian dan ketelatenan yang mereka berikan kepada putri kecil saya ketika sakit. Saya berterima kasih karena mereka bersedia merawat putri kecil saya hingga pulih kembali.
It takes a special kind of person to dedicate their lives to the pursuit of better patient outcomes.—NN Share on X






