Barangkali Aris menyadari betul kualitas dirinya. Tampan, sukses, kaya, dan memiliki keluarga bahagia. Sayang sekali, ia merasa mampu bermain api dengan cantik. Kebohongan terus dilayangkan, ditambah kemahiran bersilat lidah serta rasa enggan untuk mengakui kesalahan. Akhirnya semuanya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Lydia: Kesetiaan adalah Makanan Padat yang Susah Dikunyah
“Aku capek ngertiin perasaanmu dan istri kamu, Mas.
Aku pengen banget ngerti rasanya jalan duaan sama kamu tanpa harus ngumpet.
Aku pengen bisa ngerasain gimana jadi Kinan, istrimu!”
Itulah beberapa kalimat pembelaan Lydia di salah satu episode. Saya jengkel sekaligus geli mendengar statementnya. Yakin nih, siap menjadi Kinan yang diselingkuhi dan dibohongi berulang kali? Bukan tidak mungkin rasa frustasinya akan berlipat ganda jika ada di posisi yang sama.
Lydia juga digambarkan sangat tidak dewasa saat memilih untuk tidak meminta maaf pada Kinan. Alasannya, karena tahu Kinan sudah pasti tidak mau mendengarkan penjelasannya. Padahal netizen se-Indonesia melihat dengan jelas, siapa yang salah dan siapa korbannya.
Dari deskripsi tokoh Lydia ini saya belajar, bahwa ada beberapa orang yang memang tidak bisa menjadi setia. Kesetiaan membutuhkan komitmen dan kemauan untuk terus diasah. Sebagian orang memilih menghindari kesetiaan, karena terasa susah. Seperti anak yang enggan makan makanan padat, karena harus melalui proses mengunyah. Mereka lebih enjoy dengan bubur, yang tinggal hap dan masuk ke kerongkongan dengan mulus.
Yang terakhir, kalimat “It’s my dream!” yang viral itu sejatinya tidak hanya ditujukan soal Kapadokia dan balon udara semata. Sebetulnya itu adalah jeritan hati Kinan, dan banyak perempuan lain tentang trust issue. Tentang memiliki pasangan yang setia. Tentang komitmen dan proses untuk belajar setia. Tentang suatu elemen super kuat yang sejatinya dimiliki oleh setiap rumah tangga: kesetiaan.
Bisakah dan maukah kita menjadi pribadi yang setia?






