“Untung saat itu Papaku dengan bijak berkata pada orang tua Budi untuk memberikanku waktu berpikir terlebih dahulu, bagaimanapun keputusannya tetap harus ada di tanganku. Setelah orang tua Budi pulang, aku menceritakan semuanya pada orang tuaku. Sepertinya aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan dengan Budi lagi. Mereka paham dan mempercayai keputusanku.”

Tidak hanya orang tua Rosa, sayapun paham dengan keputusan yang telah ia ambil. Sebagai wanita, ia pasti menginginkan pendamping hidup yang bisa membuatnya merasa nyaman. Berusaha mempertahankan hubungan dengan seorang pria yang tidak bisa memenuhi kriterianya- sekalipun hubungan itu sudah terjalin sekian lama, pasti akan terasa menyesakkan. Tidak terbayangkan di kemudian hari bila ia sampai terjebak dalam pernikahan yang salah seumur hidupnya.

“Aku paham sekarang dengan keputusanmu memutuskan Budi. Aku tidak menyalahkanmu, justru aku sangat kagum dengan keberanianmu mengambil keputusan ini. Pasti tidak mudah buatmu, dan juga Budi. Sebenarnya Budi yang memintaku menanyakan alasan mengapa kamu memutuskannya begitu saja,” Ujarku sambil menyeringai.

Rosa tertawa. “Iya aku tahu dia pasti memaksamu melakukannya, karena aku sudah memblok dia. Sebenarnya aku juga kasihan sama Budi. Ia pasti merasa aku telah membohonginya. Tapi aku merasa ini adalah keputusan terbaik bagi kami berdua. Semoga dari kejadian ini ia bisa belajar untuk bertanggung jawab pada dirinya. Semoga ia menjadi lebih mandiri dan dewasa. Semoga ia juga berkaca dari kejadian-kejadian sebelumnya dan bisa menjadi lebih baik lagi ke depannya.”

Ya, siapa bilang hubungan pacaran yang telah terjalin bertahun-tahun harus berakhir dengan pernikahan. Bila salah satu atau kedua pihak sudah merasa tidak nyaman dan tidak bahagia, untuk apa memaksakan bila hanya atas nama ’eman waktu yang terbuang’.

Seiring waktu berjalan, seringkali sifat asli seseorang akan semakin terlihat. Dari sana kita mulai bisa mempertimbangkan untuk lanjut atau tidak. Sekali lagi apalah arti 6-7 tahun yang terbuang selama ini, bila dibandingkan dengan pernikahan bagai neraka yang harus dijalani seumur hidup.

Jadi, saya mencoba menjawab kegalauan hati bagi kawan-kawan yang sudah pacaran lama ingin putus, boleh ga?

BOLEH SAJA.

Kamu yang menjalaninya, bukan orang lain. Keputusannya ada di tanganmu, bukan di tangan orang lain.

Jika kamu merasa tidak nyaman, komunikasikan. Bila memang sudah tidak bisa dikomunikasikan, ya putuskan. Tidak perlu memaksakan diri, kelak kamu yang rugi.

Jadi pikirkan matang-matang sebelum membawa hubungan ke jenjang pernikahan. Karena pernikahan adalah komitmen seumur hidup. Salah menikah, maka merana seumur hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here