“Coba minum obat ini, kalau perlu cari vitamin itu.”

Banjir informasi sama membingungkannya dengan gersang pengetahuan. Saat terkonfirmasi positif Covid, seorang kolega menyarankan kami untuk menemui dokter. Sekalipun gejala umum Covid dan cara pengobatannya tersebar bak luapan sungai Brantas di berbagai media, Beliau mengatakan kami perlu menemui dokter agar mendapat diagnosa yang tepat sehingga pengobatan pun tidak salah sasaran.

Nasihat itu terbukti benar! Kondisi saya dan suami memang berbeda, gejala yang kami alami serupa tapi tak benar-benar sama, obat yang diberikan dokter pun berbeda. Dalam sesi konsultasi itulah kami mendapat informasi yang lebih jelas seputar kondisi kami. Beranjak dari situlah kami makin mantap dalam jalan menuju kesembuhan, termasuk juga memilih suplemen dan obat pelengkap yang tidak diwajibkan dokter.

Ketika beberapa teman menghubungi saya karena kondisi mereka yang bergejala seperti Covid atau masih dalam status terduga, saya tak segan berkata, “Kondisi saya seperti ini loh, maka saya menuruti saran dokter dan memilih suplemen yang ini dan itu.” Saya tak memaksa mereka mengikuti cara saya, kondisinya pasti berbeda kan?

Terkadang, meneruskan video atau artikel berhubungan dengan Covid secara berlebihan tak banyak membantu. Kami tak butuh dikuliahi atau dicekoki dengan informasi yang sering kali tak relevan dengan kondisi ini. Kami lebih butuh sahabat yang tulus ketimbang pusat informasi virus.

Tawarkan bantuan dan teruskan informasi tanpa ada paksaan atau bahkan peringatan, “Kalau mau sembuh ikuti saja video ini!” Daripada mengirim ancaman, kirim saja makanan. Hehehehe…

Di minggu-minggu pertama karantina, kami sungguh terbantu dan terberkati dengan para tetangga yang mengirimkan berbagai suplemen, vitamin, dan makanan sehat; mulai dari sup ayam jahe, bakso, ayam goreng, hingga puding dan kue yang disambut gembira oleh anak-anak. Setiap kali bel rumah kami berbunyi, rasanya haru itu tak terbendung melihat “paket” penuh kasih yang ditinggalkan di depan pintu.

Benarlah pepatah kuno yang mengatakan, “Sahabat sejati selalu setia, dan orang yang memberi pertolongan pada waktu diperlukan adalah bagaikan seorang saudara.”

Sobat, kami memahami bahwa sejatinya tak seorang pun siap menghadapi pandemi ini, terlebih lagi menerima kabar sahabat dan saudara terkasih terkonfirmasi positif Covid-19. Tidak ada orang yang siap sedia menerima hasil tes yang menyatakan dirinya positif Covid-19, temasuk kami. Mari belajar menenangkan kalut dan takut yang ada dalam diri, agar kemudian kata dan rasa yang keluar tak tercemari oleh tuduhan dan cercaan. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk kita kembali belajar menata hati dan menyebarkan benih yang menentramkan.

Yuk, kita sama-sama belajar menjadi pribadi yang merespons dengan bijaksana dan menjadi sahabat yang mendukung dengan setulusnya.

Yang sakit dan terduga sakit, butuh dibantu,
jangan justru membuatnya merasa tertuduh.
Mari hadapi kabar dengan kepedulian
bukan ketakutan yang menjerumuskan;
karena dalam kondisi sulit, kita hanya butuh
merasa tenang dan dikasihi,
bukan ditendang apalagi dihakimi.
-Claudya Tio Elleossa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here