“Gejalanya apa? Batuk, pilek, sesak napas? Bisa mencium bau ngga? Demam ngga? Dokter bilang apa? Kamu ketemu siapa saja?”

Seorang sobat dikonfirmasi positif Covid seminggu yang lalu menceritakan betapa ia frustrasi karena inboxnya dipenuhi puluhan bahkan ratusan pesan dari banyak orang. Bukan hanya rekan di tempat kerja, tetapi juga teman di gereja, bahkan teman yang sudah lama hilang kontak. Semua tiba-tiba menanyakan kondisinya, memintanya mengingat di mana kontak dengan penderita Covid lain, dan bahkan “membantu” melakukan tracing lokasi tempat ia bepergian selama beberapa waktu belakangan.

Bayangkan bila Anda harus membalas puluhan orang yang menanyakan hal yang sama? Bagaimana perasaan Anda? Jengkel dan lelah pastinya! Bayangkan Anda harus melakukan itu dalam kondisi tubuh yang lemah, batuk tanpa henti, dan demam yang tak kunjung turun; pastilah lebih melelahkan dan menjadi beban bukan?

Sobat, kami tidak membutuhkan seorang yang profesional menginterograsi, tidak juga presenter infotainment wanna-be yang mewartakan kondisi kami kepada banyak orang. Sekali lagi, bukan karena kami malu dan merasa terkena aib; Covid-19 ini virus ramah yang tidak memilih-milih teman loh! Kami butuh ruang untuk menerima hasil tes yang tidak diinginkan siapa pun juga. Kami butuh waktu untuk beristirahat dan memulihkan diri, berjuang melawan berbagai tanda dan tantangan fisik yang sudah cukup memberatkan.

Berikan kami waktu untuk “menikmati” anosmia, diare, konstipasi, demam, dan berbagai gejala yang singgah di tubuh ini. Berikan waktu untuk para OTG “berkenalan” dengan Covid yang bersembunyi dan tak menampilkan batang hidungnya. Berikan kami waktu! Doakanlah kami dari jauh. Kami menghargai kepedulian dan dukungan dari sobat sekalian; berikanlah di waktu yang tepat dan cara yang tepat.

Alih-alih menginterograsi dan menambah beban kami, kirimkan penghiburan yang menyemangati. Tahukah Anda, bahwa peduli total dan kepo maksimal tipis batasnya? Pertimbangan kondisi kami dan kirimkan pesan seperlunya.

Seorang rekan mengirimkan pesan yang unik. Setelah menanyakan beberapa hal penting, ia kemudian menutup rangkaian pesannya demikian, “Istirahat dulu aja. Nanti kalau sudah sempat dan kuat, baru balas ya.” Peduli bukan menuntut, empati tidak memaksa; carilah waktu yang patut, kirimkan kata semanis glukosa.

Worry weighs us down; a cheerful word picks us up.” – Ancient Proverb

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here