Mengapa harus sahabat kami? Lama kami tak bertatap muka karena tinggal di lain kota. Walau sebenarnya perjalanan itu bisa ditempuh tak lebih dari 2 jam, kami pun menahan rindu dan berharap korona segera berlalu agar kami dapat bertemu. Mengapa harus mereka yang menanggung sakit ini? Bukankah mereka telah hidup dalam disiplin agar tak berjumpa dengan Covid?

Dalam sebuah pertemuan virtual dengan salah seorang mentor, saya menceritakan kabar demi kabar yang menyesakkan ini. Dengan bijak, Beliau kemudian berkata, “It is easy to ask ‘why’, yet it is definitely difficult to find the answer. Maybe, we should change the question to…

Bagaimana Harus Melanjutkan Hidup?

Lalu Beliau melanjutkan…

“Ketika kita bertanya ‘mengapa’, kita akan cenderung mencari sebuah pembenaran atau alasan yang akan meringankan beban kita sementara waktu. Namun, pertanyaan itu tidak akan terjawab dengan sempurna. Akan ada pertanyaan lain yang mengikuti, dan kita akan terkurung dalam sebuah jebakan yang membuat kita merasa oke untuk sebatas waktu saja. Dan kemudian, pertanyaan lain akan muncul lagi.”

Saya teringat, ketika mendiang Papa meninggal, banyak orang yang berusaha menghibur dan memberikan jawaban atas pertanyaan “mengapa” yang sebenarnya tidak sempat saya nyatakan. Jawaban itu memang terasa meringankan sementara, tetapi kemudian meninggalkan tanya yang lebih besar dan lebih memberatkan.

Saya teringat ketika orang-orang berkata, “Kamu harus kuat. Harus bisa terima dan ikhlas. Ini yang terbaik buat Papa dan buat kalian semua.” Kenyataannya, kami belum dapat merelakan kepergiannya, kami tidak bisa menguatkan diri, dan bahkan kami tahu bahwa kondisi ini bukan situasi terbaik dan ideal bagi kami yang ditinggalkan. Beban itu makin berat kala merasakan “penghiburan dan iman” banyak orang itu tak selaras dengan rasa yang ada di dalam hati.

Mentor saya melanjutkan,

“Sometimes, you won’t find the answer. There will be times when some of your questions finally found its answers. But most of the times, it is not something that you can fully comprehend.”

Memang beberapa pertanyaan yang mengiring hidup selama bertahun-tahun belum saya temukan jawabnya. Pertanyaan akan kehidupan, akan hal-hal yang sepertinya tidak adil, akan hal-hal yang tidak bisa kita pahami dan selami dengan akal yang terbatas ini.

Beliau kemudian menutup,

For now, ketika pertanyaan itu datang silih berganti, singgah dan bahkan berdiam dalam hati, kita hanya perlu berani melangkah. Satu langkah demi langkah, tak perlu kuat berlari atau berani berdiri. Cukup satu langkah diikuti oleh langkah berikutnya. Berdamai dengan diri bahwa kita berduka, bahwa kita tak memahami semua kejadian ini. Namun, kita akan terus melangkah, sampai langkah terakhir. We have to live well so that we can finish well.”

Terus?

Boleh bertanya, boleh berhenti sejenak. Namun, selama napas ini masih diberikan bagi kita, mari kita melangkah.

Mari melangkah berkawan dengan rahasia kehidupan yang belum kita pahami. Kita melangkah bukan hanya untuk mencari jawaban, tetapi kita melangkah dalam kerapuhan dan menyadari bahwa ada anugerah kekuatan yang kita tidak sadari diberikan dalam hati ini. Kita melangkah bukan karena kita sudah kuat dan meninggalkan duka, tetapi kita menghargai kehidupan orang-orang yang kita kasihi, kita memproses kehilangan yang tak dapat terganti, dan karenanya kita melangkah sembari memahami diri.

Mari berproses, mari berdamai dengan diri, mari menjalani mengisi hari. Satu langkah sudah cukup. Hanya satu langkah lagi. Sampai satu langkah lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here