2. Kekerasan verbal

Selain banyaknya masalah sosial yang dihadapi oleh bangsa ini, namun salah satu masalah besar yang tengah dihadapi oleh bangsa ini adalah soal ujaran kebencian (hatespeech). Kebebasan berpendapat di media sosial membuat banyaknya ujaran kebencian berseliweran di mana-mana. Mulai dari isu-isu politis, suku budaya bahkan agama. Orang-orang suka memakai istilah-istilah yang tidak tepat untuk menyuarakan kebencian. Masalahnya hal ini sering dimanfaatkan oleh media untuk dipakai sebagai jargon-jargon dalam motivasi yang beda-beda. Jika hal in dibiarkan, kebencian melalui kata-kata dapat menjadi ancaman terjadinya disintegrasi bangsa.

Pembiaran ujaran kebencian yang bertumbuh subur melalui istilah-istilah yang tidak sedap didengar, salah satunya “Anjay!”. Merupakan sebuah pembiaran terhadap etika komunikasi yang baik dan benar. Mau sampai kapan kita membiarkan bangsa ini dipenuhi oleh ujaran kebencian yang pada akhirnya dapat memancing kebencian bahkan peperangan antara satu dengan lainnya.

3. Perendahan kemanusiaan, penghinaan terhadap Pencipta

Kata “Anjay!” banyak digunakan sebagai umpatan ketidaksukaan terhadap seseorang atau sesuatu. Tentu ini merupakan sebuah perendahan kemanusiaan. Ingat, sekalipun kata ini disamarkan, namun kita tahu asal kata ini dari penyebutan nama hewan “Anjing”. Menyebut seseorang “Anjay!” berarti melabelkan seseorang sejajar dengan binatang. Hal ini bukan hanya sebuah bentuk umpatan belaka, tapi juga telah menyalahi kodrat manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mulia, sebagaimana yang diyakini oleh agama-agama yang ada di Indonesia.

Tentu setelah “Anjay!”, akan beredar kata lain yang berkembang serupa. Namun, yang perlu dipahami adalah masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat bodoh. Bangsa ini dididik dalam verba yang sopan dan santun. Motivasi dibalik cuitan-cuitan ekspresi yang beredar harus direspons dan dikoreksi dengan baik. Hal ini bukan hanya penting bagi lingkungan komunikasi yang sehat, terkhususnya kaum muda. Akan tetapi juga demi menjunjung tinggi harkat martabat bangsa ini, khususnya dalam hal bercakap.

1 COMMENT

  1. maaf, penulis artikel sptnya perlu lebih memahami apa yg ditulisnya dan ini cukup mengganggu. khususnya di poin ke 2, kata anjay tdk pernah dipakai sbg hate speech. saya blm pernah membaca atau melihat ada anak remaja yg ketika marah apalagi bertengkar lalu berkata “anjay”. kata anjay justru dipakai dlm suasana gembira dan bercanda. komnas PA sendiri tau hal ini (maka, mrk menyarankan agar dipakai kata “wow keren” sbg pengganti anjay) dan inilah sebabnya komnas PA mjd makin aneh lagi krn jika utk memuji, tentu saja itu bukan hate speech. jika marah, anak muda akan memakai kata sebenarnya (anjing). alasan kata anjing dimodifikasi mjd anjay justru utk mengubah konotasi kasar itu mjd lebih riang dan santai, sebagaimana penggunaannya. saya mengomentari ini bukan krn suka memakai kata itu, saya sendiri tdk pernah memakai kata anjay krn memang tdk ada di pergaulan saya memakai kata itu. tapi, tulisan ini tetap mengganggu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here