4. Terlalu Ambisius Berkarir Dalam Politik

Dalam hitung-hitungan politik, banyak kawan dan rekannya yang menertawakan BTP ketika maju dalam pemilihan gubernur. Bagaimana bisa seseorang yang minoritas secara suku dan agama mencalonkan diri menjadi seorang gubernur, hal yang sia-sia nampaknya bukan? Terlebih ketika dia tahu ujung dari karir politiknya menyebabkan dia harus masuk penjara.

Namun ternyata BTP tidak menyuarakan ‘political voice’ namun mempunyai panggilan sebagai ‘prophetical voice’, yaitu menjadikan dirinya sebagai contoh bagaimana seharusnya berpolitik secara baik dan benar , menyuarakan keadilan di tengah ketakutan akan berkata benar.

5. Semua Harta Diatasnamakan Mantan Istrinya

Sebagai pengusaha dan politisi seharusnya BTP menjaga harta-hartanya  dari pelbagai macam ancaman yang ada, termasuk dari perceraian dengan pasangannya. Namun nyatanya tidak, meskipun dia tahu mantan istrinya mempunyai ‘good friend’ namun rumah terakhir yang BTP belipun diatas namakan istrinya, karena saat itu bapak tiga orang anak ini masih mau memperjuangkan hati  mantan istrinya tersebut.

Ketika bercerai akhirnya BTP memberikan seluruh hartanya bagi anak-anaknya, sebab dia tak ingin anak-anaknya kesusahan secara materi di masa depan. Setelah bebaspun BTP sempat merasakan khawatir tidak dapat bekerja secara normal karena terkait dengan statusnya sebagai mantan narapidana, ternyata kekhawatiran yang dialaminya tak terbukti seiring berjalannya waktu.

6. Lebih Berpikir Menutupi Aib Keluarga daripada Mengungkap Perasaan Diri

Perceraian antara kedua orang tua merupakan jalan yang mudah untuk menyelesaikan masalah diantara keduanya, namun jalan itu menjadi jalan yang terjal bagi anak-anak mereka, terutama ketika mereka tumbuh dewasa. Anak-anak tidak akan mendapatkan gambaran yang utuh atas sebuah keluarga, kasih dan kesetiaan.

Namun BTP ingin memberikan contoh bagi keluarga terdekatnya, bagaimana dia berusaha untuk memelihara kekudusan hidup dalam berumah tangga. “Dari 10 hukum Allah, ada 2 yang mengatur hubungan antar manusia dengan sangat jelas; yaitu jangan membunuh dan jangan berzina. Saya tidak mungkin membunuh orang dan saya tidak mungkin membiarkan kesalahan seperti itu,” kata BTP. “Tapi kan saya tidak mau mempermalukan istri saya waktu itu, karena dia mamanya anak-anak, dan saya ingin menutup aibnya, karena saya pingin keluarga saya balik’.

7. Terlalu Cepat Menikah Lagi

“If someone broken your relationship, do not worry, because I will provide you someone more kinder, more fun, and more appealing for you” sebuah kalimat yang dibaca oleh BTP dalam pergumulannya tentang kegagalan relasi yang dialaminya. Pun dalam keputusan untuk menikah lagi BTP selalu meminta tanda dari Tuhan apakah dia merupakan pengganti yang lebih baik dari mantan istrinya. Dan yang mengagetkan, dalam kesaksiannya BTP mendapatkan petunjuk yang begitu jelas selangkah demi selangkah dalam keputusan untuk berumah tangga. Mungkin terasa cepat bagi orang lain, namun demikianlah seorang BTP yang tak pernah jauh dari kontroversi.

Pengalaman adalah guru terbaik, namun terlalu mahal harganya jika kita harus mengalaminya sendiri. Di tengah kontroversi tentang BTP, adakah hal-hal yang dapat kita pelajari untuk kebaikan kita?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here