DARI SAYA, YANG MEMILIH TIDAK IKUT BERGABUNG DENGAN MOMS SEMUA

“Halo, Moms. Yang tidak ikut nge-list adalah saya sendiri. Ini explaination dari saya.

Sebagai seorang guru les bahasa asing, saya tahu bagaimana kondisi semua sekolah ya, Moms. Berikut rincian kebijakan dari beberapa sekolah:

  1. Ada sekolah Katolik (SMU) nomor satu di sini yang memberikan diskon uang sekolah 80% bagi mereka yang tidak mampu membayar uang sekolah di bawah 800 ribu rupiah. Diskon 50% diberikan kepada mereka yang uang sekolah berkisar antara 800 ribu sampai dua juta rupiah. Sedangkan uang sekolah dua juta rupiah hanya diskon 10% karena dianggap mampu.
  2. Sekolah B (terkenal sebagai sekolah orang kaya dan bermutu bagus) memberikan diskon 50% karena sponsorship yang banyak. Dengan catatan TIDAK ADA Google Meet atau Zoom Meeting sebagai kompensasi pemberian tugas. Sangat santuy.
  3. Ada yang mengembalikan uang per bulan sebesar 100 ribu sebulan dalam bentuk pulsa HP.
  4. Sejumlah sekolah internasional tidak memberikan diskon sama sekali, namun ada yang memberi informasi bahwa sebagian dana SPP akan didonasikan bagi bencana Covid-19.

Jadi sebaiknya kita harus belajar bijak, Moms. Jangan hanya melihat mengapa ada sekolah yang memberi diskon 50%. Pandanglah juga sekolah lain yang sama sekali tidak memberikan pengurangan biaya.

Oh ya, satu lagi. Saya sebagai seorang guru les dan memberikan les online merasakan sendiri. Tugas online JAUH LEBIH BERAT DARIPADA offline.

Jika ingin mengajukan permohonan keringanan, sebaiknya diungkapkan secara personal saja. Yang harus diingat, diskon 50% dari sekolah B tersebut tidak dibarengi dengan pemberian materi sama sekali seperti sekolah kita, lho.

Semoga jika permohonan moms untuk diskon di-acc, gaji guru dan karyawan tidak terpotong juga.

Tertanda,

-saya-

Ketika membaca penuturan beliau, saya cukup kagum. Penjelasan yang cukup frontal tersebut tentunya disertai dengan sebuah risiko: teman saya akan dimusuhi satu kelas.

Dapat saya simpulkan bahwa alasan utama penolakan sahabat saya ini adalah mengenai prinsip dasar: MENGHORMATI KEBIJAKAN SEKOLAH yang berbeda satu dengan lainnya. Selain itu, memang ia merasakan sendiri, bagaimana tugas seorang guru yang harus WFH menjadi semakin kompleks.

Pesan paling menusuk dari kasus ini adalah bagaimana menjadi bijak itu penting. Tentu saja, meminta diskon bukanlah sesuatu yang salah. Hanya saja, buatlah sebuah ajakan maupun tulisan yang bisa memberi solusi, alih-alih memprovokasi.

Sekali lagi, kita sedang diuji. Bijaklah dalam berbuat dan bersikap, agar tidak merugikan pihak lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here