Seperti kita menjadi lebih awas terhadap kebersihan untuk menghindari Covis-19, kita perlu mengawasi apa yang pikiran kita konsumsi setiap hari. Kita perlu mengingatkan diri sendiri bahwa kebencian tidak membawa apa-apa, selain ketakutan. Negeri kita dan bumi ini sedang membutuhkan kasih yang membawa pengharapan, bukan ketakutan!

Takut? Boleh Saja, Namun … 

Para tenaga medis, ilmuwan, dan pemerintah tengah bekerja keras mengatasi infeksi virus Covid-19 dan mencegah penyebarannya. Kita juga harus turut mendukungnya dengan tidak hanya diam #dirumahaja, tetapi juga memastikan bahwa lingkungan kita sehat, baik secara kebersihan fisik dan maupun kebersihan hati.

Tentu pandemi virus yang menelan banyak korban jiwa ini meninggalkan trauma. Orang-orang semakin berjaga-jaga dan terlatih untuk melakukan physical distancing. Namun, bukan berarti hal ini mematikan jiwa sosial kita. Physical distancing tidak boleh membuat kita menjadi antisosial karena pada dasarnya kita membutuhkan orang lain.

Kitab suci menuliskan, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Jika kita ingin dikasihi, maka kita harus mengasihi. Suatu ukuran yang kita ciptakan untuk orang lain akan dipakai juga untuk mengukur diri kita.

Saya sungguh ingin pandemi virus Covid-19 segera berakhir. Saya ingin nongkrong dengan bebas bersama teman-teman, mengikuti kelas-kelas belajar di sekolah, pergi beribadah secara bebas bersama orang-orang yang saya kenal, nonton bioskop, jalan-jalan di mall, traveling dan bertemu kawan-kawan baru. Cukup Covid-19 saja yang sementara menghalangi kita bertatapmuka dengan kerabat dan sahabat.

Ketika Covid-19 berlalu, mari kita pastikan tidak ada virus lain lagi yang harus membuat kita terhalang untuk berelasi. Cukup sudah Covid-19 membatasi relasi-relasi kita, jangan lagi ada virus lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here