Itulah mungkin alasan mengapa industri board game bukan saja tidak mati di tengah maraknya game online, tetapi justru meningkat dengan pesat. Di Indonesia sendiri, berbagai board game ciptaan dalam negeri bermunculan setiap tahunnya. Kami sekeluarga sangat menikmati Waroong Wars, sebuah card game yang diciptakan dan berhasil meraih juaral pertama dalam ajang kompetisi Board Game Challenge 2015 yang diadakan oleh Kummar dan Harian Kompas.
Jika pada tahun 2013 hanya terdapat 5 board game yang dirilis, maka pada tahun 2017, otak-otak kreatif di Indonesia merilis 16 board game. Di tahun 2018, jumlah kreasi itu kembali meningkat. Salah satu board game hasil karya anak bangsa adalah Linimasa: Edisi Sejarah Kemerdekaan. Teman saya bermain Splendor ini berkata bahwa Linimasa bukan saja asyik untuk dimainkan, tetapi bisa menjadi alat bantu ketika kita ingin mengajarkan anak-anak tentang sejarah Indonesia.
Ketika BEKRAF Game Prime 2019, pameran game Indonesia terbesar, diadakan di Balai Kartini pada pertengahan Juli yang lalu, area board game ternyata menjadi area yang dipadati oleh pengunjung. Antusias yang tinggi ditemani canda tawa menjadikan area ini lebih unik. Para pengunjung yang tidak pernah saling kenal kini bisa berbicara dan bertukar pendapat. Orang-orang yang melihat permainan yang sedang berjalan bisa dengan mudah masuk menjadi bagian dari keseruan permainan itu.
Sama seperti yang juga terjadi ketika permainan Splendor ini sedang berjalan.
Saat itu, kami sedang bermain di sebuah stan yang dibuka oleh teman saya. Tidak sedikit orang yang sedang berlalu-lalang kemudian berhenti, melihat permainan kami dan bertanya. Ada bahkan yang secara tidak sadar berhenti, duduk, dan memulai percakapan dengan kami. Hanya ketika keluarganya datang dan memanggilnya untuk makan barulah ia berdiri dan pergi.
Inilah keajaiban dari sebuah komunitas. Inilah harta peninggalan dari nenek moyang kita yang mulai luntur di budaya hari ini. Pada siang hari itu, saya kembali bisa mencium aroma masa lalu lewat permainan singkat dan sederhana itu. Pikiran saya kembali melayang kepada waktu dimana persatuan dan persamaan bisa dengan mudah diciptakan dan dirayakan, terlepas dari segala perbedaan yang ada.






