“Bagaimana Meta bisa sampai di Bali?”

“Saya menyesal, Bu, tidak mau mendengarkan nasihat Bu Yenny dan Bu Pendeta,” tuturnya memulai kisah hidupnya.

Janji awal Ray, Meta diperbolehkan membawa kedua anaknya ke rumah mereka. Tak disangka, dia ingkar janji. Meta harus merawat empat anak Ray, sementara anak kandungnya tak terawat. Usaha Ray pun tidak lancar. Saat suntuk dengan masalah keuangan, Ray suka memukuli Meta. 

Belum lagi anak-anak kandung Meta merasa kecewa dan berontak. Anak bungsunya lari dari rumah, hidup di jalanan, dan menjadi pecandu narkoba. Hidupnya makin hancur. Suatu ketika, dalam pertengkaran, Meta dipukul hingga berdarah-darah dan pingsan. Sampai akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit. Karena kejadian itu, ujung mata kirinya cacat hingga kini.

“Saya sekarang membantu usaha Rian, anak sulung saya di Bali. Sekarang saya menyadari, tidak ada kebahagiaan ketika kita hidup melanggar kebenaran firman Tuhan. Di antara tiga pria yang pernah ada dalam hidup saya, sesungguhnya papanya Rian yang terbaik. Meski kadang-kadang dia berjudi dan begadang dengan teman-temannya, tapi tetap bertanggung jawab membiayai anak-anak. Modal Rian berdagang juga dari papanya. Sayangnya, waktu itu saya masih sangat muda, hanya mengandalkan emosi.

Tuhan menginginkan pernikahan hanya sekali seumur hidup hingga maut memisahkan, karena memang itulah yang terbaik. Seharusnya ketika pernikahan bermasalah, dibenahi bersama. Bukannya bercerai dan mencari pasangan baru. Sekarang saya paham, tapi nasi sudah jadi bubur.

Pernikahan kedua dan seterusnya itu berbeda, Bu … apalagi menikah dengan duda. Masing-masing punya kepentingan sendiri. Dia lebih memprioritaskan anaknya. Sedangkan anak-anak saya, kan, bukan anaknya. Mana mau dia peduli? Saya kapok, tidak mau menikah lagi. Keinginan saya hanya menebus dosa pada Rian dan Randy, adiknya. Apalagi saat ini Randy masih dalam pemulihan ketergantungan obat. Terlalu banyak luka-luka mereka karena keegoisan saya. Hidup saya sekarang hanya untuk melayani anak, menantu, cucu, dan Tuhan,” tutur Meta menutup perjumpaan kami.

Kebaikan Tuhan selalu tersedia bagi setiap kita

Penyesalan selalu datang terlambat. Akan tetapi, Tuhan baik. Rian mendapatkan istri berhati mulia dan mereka mengasihi Meta. Usaha Rian pun berkembang, sehingga dapat membiayai pengobatan Randy. 

Setelah pertemuan tak terduga itu, saya bergegas meneruskan perjalanan. Sinar bulan di kegelapan malam seolah menjanjikan harapan. Pemandangan itu membisikkan suatu pesan ke dalam hati saya. Sepekat apa pun hidup seseorang, asalkan dia mau bertobat, Tuhan selalu memberikan second chance. Kesempatan kedua. 

Semoga hidupmu bahagia, Meta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here