Keadaan tersebut membuat Meta panik. Dalam keadaan suntuk, bingung, dan serba terjepit, Meta datang ke gereja. Dia mencari ketenangan dan mengharapkan terjadinya mukjizat. Meski sudah lama sekali dia tidak pernah menginjakkan kaki ke rumah Tuhan, tetapi dia ingat kisah-kisah saat masih di Sekolah Minggu. Tuhan mampu membuat mujizat. Di situlah kami berkenalan pada awalnya. 

Di gereja, kami ditawarkan mengikuti paket pelajaran dasar. Meta bersedia mengikutinya. Saat itulah saya diberi tugas untuk mengajarnya. Tentu kami berusaha untuk membimbingnya sesuai kebenaran firman Tuhan.

Hari demi hari berlalu tanpa kejelasan. Suatu hari, sang pacar membujuk Meta pulang dulu ke rumah orangtuanya. 

“Supaya situasi dingin dulu dan proses perceraian bisa segera diselesaikan,” ujarnya. Janji untuk segera merealisasikan pernikahan pun ditegaskan kembali.

Meta menurut. Dia kembali ke rumah orangtuanya. Pada awalnya, komunikasi masih lancar. Namun, makin lama makin sulit dihubungi. Beberapa minggu hilang komunikasi, terdengar kabar sang pacar rujuk kembali dengan istrinya.

Meta pun patah hati. 

Berkali-kali pelajaran dibatalkan. Ke gereja pun tidak. Bulan demi bulan berlalu tanpa kabar. Suatu hari Meta ingin bertemu. Dia mengabarkan akan menikahi seorang duda dengan empat anak. 

“Berapa lama kamu mengenalnya?”

“Tiga bulan, Bu. Raymond, namanya. Kami dikenalkan oleh teman sekerja dan cocok,” jelasnya. 

“Kami sudah sama-sama dewasa, saling memahami betapa pahitnya rumah tangga yang gagal, jadi tunggu apalagi?”

Saya mencoba memberinya pengertian. Dia belum betul-betul mengenal Ray, sangat beresiko menikahinya. Akan tetapi, Meta bergeming. 

Akhirnya Ibu Pendeta kami secara khusus menemui Meta. 

“Setidaknya menikahlah setahun lagi. Meta baru saja putus dengan mantan pacar pertama, mengenal Ray juga baru tiga bulan. Meta belum siap menikah dan perlu mengenal Ray lebih mendalam. Belajarlah dari pengalaman masa lalu,” kata Ibu Pendeta.

Namun, segala upaya dan penjelasan tidak digubris. Dua bulan kemudian, mereka pun menikah. Kemudian Meta dilarang ke gereja dan kami kehilangan kontak hingga kini. 

Sebuah pelajaran keras dalam pilihan yang dibuat

Setelah mengingat Meta, saya pun mengajaknya makan di resto terdekat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, akhirnya kami kembali duduk berhadapan muka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here