Gadis belia yang saya tanya tersebut rupanya termasuk anak muda baik-baik sekaligus cerdas. Ia bisa membedakan perilaku cowok/cewek nakal dengan cowok/cewek baik-baik.

Cowok dan cewek baik-baik akan menatap wajah lawan bicara saat berkomunikasi. Sekiranya pemalu pun, ia akan menunduk – menatap kakinya sendiri. Bahkan, cowok cuek pun – yang tidak nakal, juga tak akan berani menatap anggota tubuh privat lawan bicaranya. Besar kemungkinan ia lebih banyak melihat sekeliling, berkonsentrasi ke laptopnya, atau yang lebih sering, menatap ponsel pintarnya.

Sebaliknya cowok dan cewek nakal justru mengarahkan pandangan ke anggota tubuh di bagian yang tak sepatutnya menjadi fokus. Bukan karena tidak sengaja, tentunya. Itu terjadi karena hal tersebut sudah menjadi habit atau kebiasaan. Juga bukan tanpa maksud, karena ada keinginan dan khayalan kotor bersembunyi di balik tatapan tersebut. Kamu tentu tidak ingin menjadi ‘objek’ tontontan dan khayalan jorok orang semacam ini, bukan?

2. Apa Isi Pembicaraannya?

Apakah dia mengajak bicara dan bercanda tentang hal-hal umum dan biasa-biasa? Atau mengarahkan obrolannya ke bercandaan kotor [sensual] dan malah berani melontarkan rayuan seksual?

Cowok/cewek baik-baik akan menggunakan kesempatan berkomunikasi untuk mengenal sifat dan kehidupan sehari-harimu. Tentunya obrolannya akan bervariasi, dari soal hobby, sekolah, teman, keluarga, bahkan mungkin sampai soal pilkada! Dari obrolan-obrolan tersebut, ia akan mulai menemukan siapa lawan bicaranya, apa watak dan worldview-nya.

Berbeda dengan cowok dan cewek nakal. Mereka cenderung mengarahkan obrolan kepada hal-hal yang bermaksud menggoda lawan bicara untuk dapat mencapai apa yang mereka sebut sebagai ‘relationship goal’ yang salah kaprah. Relationship goal yang dimaksud adalah bisa berperilaku bak sepasang pengantin padahal belum menikah, yang tidak lain sebenarnya merupakan perilaku cabul.

Umumnya, mereka akan memulai dengan memuji kecantikan atau ketampananmu, lalu menanyakan ‘pengalaman’ pacaranmu seperti apa. Dari situ, mereka akan mencoba meyakinkan kamu bahwa lebih asyik jika melakukan ini dan itu – yang tidak lain merupakan tindakan kurang ajar tapi dikemas dengan sebutan ‘bermesraan’. Lewat obrolan, ia hendak mengajari kamu untuk berlaku cabul dengannya. Topik pembicaraan juga tak jarang berisi humor-humor jorok dan porno, bahkan berani membicarakan tubuh cowok atau cewek lain.

Bagi mereka yang tidak memiliki pendirian teguh soal kemurnian pikiran dan perkataan, obrolan yang cabul awalnya akan membuat jijik, geli, bahkan marah. Tapi, hal tersebut lama-lama dapat menjadi “biasa” jika mereka membiarkan diri terus menerus masuk dalam percakapan demikian. Mereka tidak pernah dengan tegas menegur lawan bicara yang bicara kotor tersebut. Atau, mungkin pernah menegur tapi dianggap angin lalu saja oleh si cowok atau cewek nakal. Yang jelas, mereka tidak berani mengambil langkah tegas untuk menjauhkan diri dari dari teman yang tidak baik tersebut. Akibatnya, mereka ‘termakan’ oleh isi pembicaraan yang menjerumuskan diri mereka kelak pada hal yang lebih berbahaya lagi, menjadikan khayalan kotor mereka kenyataan, dengan mempratikkannya.

Jika kamu tahu ada lubang besar di jalan raya, tentu sewajarnya kamu akan berusaha menghindarkan kendaraanmu yang sedang melaju sejauh-jauhnya dari lubang tersebut, bukan? Karena kamu tahu, lubang itu pasti akan mendatangkan celaka tak hanya pada kendaraanmu, tetapi terutama nyawamu. Demikian pula halnya kedekatan relasi dengan cowok/cewek nakal.

Menghindar, oleh karena itu, adalah pilihan terbaik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here