“Yo sik, kacek sithik duitku wis ngumpul. Aku emoh kredit motor. Gelem cash wae. (Sabar, aku masih mengumpulkan uang. Aku tidak mau nyicil motor, maunya bayar tunai saja.)”

Ternyata tukang taman ini ingin mengganti sepedanya dengan motor. Bisa dimengerti, karena sepedanya terlihat sangat usang. Di bagian depan stang sepedanya dipasang keranjang kecil yang diberi emblem logo sebuah mobil. Ban sepedanya sudah tipis. Meskipun demikian, ia tidak mau membeli motor secara kredit. Ia memilih membayar tunai. Rupanya si driver ojol memperhatikannya, dan ingin menemani si tukang taman memilih motor pada waktunya.

“Iyo, penting duit’e dhewe, ora ngutang wong liya. Mengko aku ajari cara maca GPS yo, Koh. (Iya, sebaiknya pakai uang sendiri, bukan uang orang lain. Nanti ajari aku baca GPS ya, Koh.)”

“Lho, meh jadi sopir G***k? Yo, sip. Wis ta doa’ke sehat yo, Pak, (Lho, ingin jadi sopir G***k? Sip deh. Saya doakan sehat ya, Pak,) ” jawab si driver ojol.

Saya merenungi perkataan  tukang taman tersebut. Meskipun bukan orang berlebih, ia tidak suka berutang pada orang lain. Bahkan kelak, ia ingin bisa mencari nafkah dari motornya. Di usia setengah baya, beliau tetap rindu belajar mengikuti perkembangan zaman. Membaca GPS adalah salah satu contohnya. Beruntung, ia memiliki teman yang siap membantu dan mendoakan kesehatannya.

Acara percakapan singkat itu berakhir dengan keheningan. Sang bapak tukang taman memijat punggung si engkoh ojol. Kemudian mereka menyantap nasi kucing dan memandang langit bersama.

Sebuah pemandangan yang indah. Saya pikir, inilah potret Indonesia yang indah. Di mana perbedaan ras dan suku tidak menjadi penghalang untuk saling mendukung dan berbagi. Tidak perlu menunggu jadi kaya untuk mengekspresikan kepedulian pada orang lain. Setidaknya, kedua lelaki  bersahaja tersebut telah memberikan bukti yang membuat saya kagum dan salut.

Saat pulang kembali ke rumah, hati ini penuh syukur. Hari ini, mata saya memotret Indonesia yang bermartabat. Semoga masih banyak keindahan lain yang boleh saya saksikan di tahun ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here