Pada dasarnya, pendidikan keluarga, 90% dipelajari seseorang bukan melalui seminar-seminar keluarga atau forum-forum keluarga bahagia. Teori-teori itu hanya 10% mempengaruhi seseorang. Namun 90% dipetik seseorang melalui contoh yang diberikan oleh orang tuanya. Ya 90%, anda tidak salah membaca.

Anda tentu berdalih dengan mengatakan bahwa “Tidak ada keluarga yang sempurna.” Benar. Dan saya setuju tentang hal itu. Namun itu tidak serta-merta membuat kita berhenti was-was untuk persoalan ini. Yang harus Anda pikirkan adalah setiap gambaran keluarga akan mempengaruhi seorang anak dalam membangun bahtera rumah tangganya di kemudian hari. Maka itu, pertama, berilah gambaran yang tepat bagi anak-anak menyangkut relasi suami isteri dan relasi orang tua dengan anaknya.

Kedua, pahamilah bahwa tidak setiap anak siap menghadapi apa yang dihadapi oleh orang tuanya. Ada baiknya, di usia-usia saat seorang anak sedang bergumul dengan citra dirinya yang belum dewasa (labil), orang tua tidak mengikutsertakan anak-anak di dalam masalah antara suami dan istri, apa lagi masalah-masalah yang besar. Jangan pernah menunjukkan perkelahian suami istri di depan anak. Dan juga jangan pernah menjadikan seorang anak tempat curahan hati orang tua ketika ia belum siap. Hal itu dapat mempengaruhi struktur jiwa seorang anak.

Ketiga, jika anak Anda sering kali melihat hal-hal yang buruk terjadi pada relasi ayah dan ibunya, perlihatkanlah juga padanya bagaimana ayah dan ibunya dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan itu dengan solusi yang baik, cerdas dan dewasa. Jangan hanya perlihatkan hal yang buruk pada anak, tapi perlihatkanlah juga hal-hal yang baik dari ayah dan ibunya dalam melakukan problem-solving. Hal itu akan menolong sang anak untuk mempelajari hal yang baik dari sebuah masalah yang dihadapi di kemudian hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here