2. Menjadi pasangan hidup yang melayani

Perjumpaan saya dengan suami adalah bukti pengaturan Tuhan yang sempurna dalam hidup saya.

Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa saya akan berjodoh dengan seseorang yang kepribadiannya sangat berbeda dengan saya. Ketidakcocokan dalam beberapa hal tentu saja ada, tetapi perbedaan-perbedaan nyatanya justru membuat kami saling melengkapi.

Tidak bisa dimungkiri, saya memang cenderung lebih dominan ketimbang suami yang pembawaannya memang lebih tenang. Mungkin kehidupan telah membentuk saya sedemikian rupa, sehingga ketika diperlukan, saya tetap tangguh dan bisa menutupi ‘kelemahan’ suami.

Perjalanan pernikahan mengajarkan saya bahwa Tuhan mempertemukan kami bukan tanpa tujuan. Kami belajar untuk saling melayani. Bukan sekadar melakukan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab masing-masing, lebih dari itu, kerelaan untuk berkorban demi kehidupan bersama yang semakin baik.

Ketika pekerjaan suami mengalami kemerosotan dan berdampak kepada ekonomi keluarga, contohnya. Istri bisa membantu meng-cover biaya rumah tangga yang biasanya selalu menjadi tanggung jawab suami.

Demikian juga dengan tugas-tugas domestik. Meskipun kesannya cenderung kebanyakan ditangani istri, bukan berarti suami tidak bisa ikut membantu mengurusi rumah tangga dan segala keruwetannya. Membersihkan rumah, memasak, bahkan mengurus anak pun bisa dilakukan.

Tidak ada yang tidak bisa dilakukan, asalkan memiliki hati yang melayani.

Baca Juga: Kesulitan-Kesulitan Nyata dalam Pernikahan yang Tidak Terbayangkan ketika Janji Nikah Diucapkan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here